Page 273 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 MEI 2019
P. 273
"Berkurangnya lahan pertanian membuat orang beralih ke hidroponik karena sistem
ini tidak membutuhkan lahan yang luas seperti pertanian konvensional. Selain itu,
tanaman hidroponik juga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi karena lebih
bersih, sehat, dan bebas pestisida," ucap Aan.
Sementara itu, Instruktur BLK Lembang selaku tim inovasi di BLK Lembang, Iwan
Hermawan, menjelaskan cara kerja sistem smart nutrients. Petani memasukkan
kebutuhan nutrisi tanaman ke sistem, setelah itu sistem akan mengukur dan
memonitor kandungan nutrisi di tandon. Kemudian, secara otomatis akan
menambah dan melakukan pencampuran nutrisi ketika sudah berkurang.
"Melalui smart nutrients ini kandungan nutrisi di tandon bisa terus terjaga hingga
masa panen tanaman tiba," kata dia.
Sistem tersebut terus dikembangkan melalui aplikasi mobile dengan penerapan
Internet of Things (IoT), sehingga pemantauan dan pengontrolan nutrisi hidroponik
dapat dilakukan melalui smartphone.
"Smart nutrients merupakan respons BLK Lembang atas tantangan digitalisasi di era
revolusi industri 4.0. Aplikasi berbasis android ini menggunakan Internet of Things
(IoT)," ujar Iwan.
Sebelumnya, BLK Lembang telah menerapkan aplikasi smart farming untuk
pertanian konvensional. Aplikasi ini mampu mendeteksi suhu, kelembapan tanah,
dan pH tanah melalui sensor yang ditanam di tanah.
"Dengan aplikasi ini, petani dapat melakukan penyiraman dan pemupukan dengan
menekan tombol pada aplikasi smart farming di handphone. Jadi, petani bisa
memantau ladangnya di mana saja dan kapan saja selama ada jaringan internet,"
ucap Iwan.
Page 272 of 277.

