Page 13 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 AGUSTUS 2019
P. 13
menyentuh masalah rendahnya kualitas tenaga kerja Indonesia saat ini.
Peneliti dari Institute for Development and Economi Finance (Indef), Ahmad Heri
Firdaus, dalam diskusi di Jakarta, Selasa (27/8), mengatakan peran SDM sangat
penting bagi perekonomian sebuah negara dan salah satu input penting bagi
pembangunan industri yang berdaya saing. Menurut Heri, tantangan dalam
pembangunan SDM meliputi produktivitas relatif rendah dan sulit meningkat.
Pada saat bersamaan, institusi pendidikan/ pelatihan belum mampu menjawab
tantangan meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja. Selain itu, gap
antara kebutuhan dan penyediaan tenaga kerja masih lebar, sehingga terjadi
mismatch antara institusi pendidikan dan dunia kerja. Kemudian, di era baru
ekonomi yang warnai disrupsi teknologi mengubah karakteristik permintaan tenaga
kerja.
Dari sisi produktivitas jika diukur dengan GDP per worker employed, Indonesia
masih relatif tertinggal dari negara tetangga. Jika melihat mayoritas tenaga kerja
Indonesia saat ini, hampir 60 persen tepatnya 58,78 persen pekerja di Indonesia
masih tamatan pendidikan rendah yaitu, SMP ke bawah. Mereka memiliki
keterbatasan skill, sehingga akan sulit untuk meningkatkan produktivitas dan
bersaing.
Sebab itu, perlu ada terobosan untuk mengatasi pekerja yang 58,26 persen
tersebut. Sementara itu, industrialisasi dan digitalisasi papar Heri, tentunya
memerlukan tingkat keahlian dan produktivitas yang lebih baik. "Apabila
industrialisasi tidak disokong dengan kualitas SDM yang memadai maka proses
transformasi struktural tidak berjalan ideal," kata Heri.
Dari sisi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor yang menjadi
kontributor PDB terbesar yaitu industri dengan kontribusi 19,66 persen, hanya
mampu menyerap tenaga kerja sekitar 14 persen. Sedangkan, tenaga kerja terbesar
masih di sektor pertanian yaitu, 29 persen, namun kontribusinya terhadap PDB
hanya sekitar 13 persen.
Belum Efektif
Beberapa program pelatihan/ sertifikasi yang dilakukan pemerintah, tambah Heri,
belum efektif. Dari profil yang ikut pelatihan, masih banyak angkatan kerja yang
telah mengikuiti pelatihan/ sertitikasi yang justru belum bekerja. "Hal ini
mengingatkan kita pada rencana program kartu pra kerja, bagaimana jika
pemegang kartu tersebut tidak kunjung mendapatkan pekerjaan?" tanya Heri.
Dengan profil ketenagakerjaan dan permasalahan yang ada saat ini tentu akan
Page 12 of 93.

