Page 85 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 JUNI 2020
P. 85
Wang mengatakan sebelum datang ke Indonesia, mereka sudah semuanya
menyerahkan dokumen-dokumen sesuai dengan persyaratan Kementerian
Ketenagakerjaan dan Ditjen Imigrasi, seperti sertifikat pendidikan, sertifikat
keterampilan dan kualifikasi lainnya, dan juga sudah mendapatkan persetujuan yang
diperlukan.
"Kalau kami lihat situasi pada saat ini, setiap pekerja Tiongkok di Indonesia
setidaknya bisa menciptakan 3 lapangan kerja untuk masyarakat lokal Indonesia.
Contohnya, proporsi pekerja Tiongkok terhadap pekerja Indonesia di Taman Industri
IMIP adalah 1 banding 10; JD.id adalah 1 banding 70, dan Taman Industri Julong
adalah 1 banding 150," jelas Wang
Seorang pekerja terampil Tiongkok pada umumnya dibayar 30 ribu USD per tahun
ditambah biaya penerbangan internasional dan akomodasi yang wajib ditanggung
oleh perusahaan, sementara itu seorang pekerja lokal Indonesia dibayar 10 persen
dari total biaya pekerja Tiongkok.
Karena itu, demi mengendalikan biaya, investor Tiongkok tak mempunyai alasan
untuk tidak mempekerjakan pekerja lokal.
"Bagi beberapa proyek yang diinvestasikan oleh pelaku usaha Tiongkok, memang
Indonesia tak mampu menyediakan cukup tenaga teknis dan pekerja terampil,
makanya perusahaan Tiongkok harus menggunakan pekerja Tiongkok meskipun
biayanya tinggi," kata Wang
Namun, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah merumuskan rencana lokalisasi,
yakni lebih banyak mempekerjakan pekerja lokal demi menurunkan biaya.
Sebagai contoh, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan secara bertahap beralih
ke manajemen lokalisasi.
"HUAWEI sedang melakukan pelatihan untuk mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) pekerja lokal, dan sampai
sekarang pekerja Indonesia yang menerima pelatihan tersebut telah melebihi 7000
orang," tutup Wang.
Page 84 of 115.

