Page 102 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 102

satu jiwa WNI sama seperti menyelamatkan kita semua. Itulah inti kemanusiaan,” kata Jazilul
              Fawaid melalui pernyataan tertulisnya di Jakarta, Senin.

              Gus Jazil, sapaan akrab Jazilul menyambut kedatangan Eti Binti Toyib di Ruang VIP Terminal 3,
              Bandara  Soekarno  Hatta,  Tangerang,  Banten,  Senin,  didampingi  Menteri  Tenaga  Kerja  Ida
              Fauziah dan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdani.

              Eti,  pekerja  migran  asal  Majalengka,  Jawa  Barat,  yang  dipenjara  sejak  2002  atas  tuduhan
              meracuni majikan di Arab Saudi sehingga terancam hukuman mati.

              Eti bisa bebas dari hukuman mati setelah Pemerintah Indonesia dengan dukungan dari berbagai
              kalangan, termasuk Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan
              PKB membayarkan diyat (uang darah) yang diminta keluarga majikan.

              "Ini hukum di Arab Saudi. Qisas itu hukum nyawa dengan nyawa. Tapi bisa dilakukan dengan
              membayar diyat, pihak keluarga yang dibunuh memberikan pemaafan," jelasnya.
              Gus  Jazil  mengungkapkan  semula  ahli  waris  majikannya  meminta  diyat  sangat  tinggi, yakni
              sebesar 30 juta real atau sekitar Rp107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi, tetapi dengan
              berbagai pendekatan akhirnya ahli waris bersedia dengan diyat sebesar Rp15,2 miliar.

              "Atas  inisiator  dari  teman-teman  PKB  dengan  LAZISNU  sejak  dua  tahun  lalu  kemudian
              mengumpulkan dana untuk membayar diyat untuk membebaskan Eti Binti Toyib dari ancaman
              hukuman mati," katanya..

              Kasus Eti terjadi sejak 2001 dan yang bersangkutan pun sudah menjalani masa penahanan
              selama 19 tahun.

              "Karena itu kami dari pimpinan MPR selalu mengajak untuk mengedepankan kemanusiaan dan
              kegotongroyongan di semua situasi kepada siapapun. Apalagi, ini adalah pejuang devisa yang
              bekerja di luar negeri. Ibu Eti bekerja hanya 1 tahun 8 bulan, tapi dipenjara 19 tahun. Ini tidak
              boleh terulang lagi kepada warga kita, saudara kita yang berjuang di luar negeri tapi kemudian
              terkena kasus,” kata Koordinator Nasional Nusantara Mengaji tersebut.

              Wakil Ketua Umum DPP PKB itu menyebutkan masih ada pekerja migran asal Indonesia yang
              terancam hukuman mati di Arab Saudi.

              "Tapi, pesannya adalah bahwa siapapun dan apapun atas nama kemanusiaan tidak boleh ada
              warga kita yang kemudian dihukum pancung atau dihukum mati untuk kasus yang memang
              belum 'clear' seperti Ibu Eti ini,” katanya.

              Sementara itu, Eti Binti Toyib mengucapkan rasa syukur setelah bebas dari hukuman dan bisa
              kembali ke Tanah Air.
              "Alhamdulillah  bisa  bebas  dari  hukuman.  Saya  mengucapkan  terima  kasih  atas  dukungan
              semuanya. Mudah-mudahan ada hikmahnya untuk semua. Saya cuma bisa berdoa," tuturnya.

              Selama  menjalani  hidup  di  penjara  19  tahun,  Eti  Binti  Toyib  menghafal  Al  Quran,  selain
              melakukan  pekerjaan  lainnya,  dan  juga  mengaku  tidak  ingin  kembali  lagi  menjadi  pekerja
              migran.

              Eti mengaku tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan, yakni meracuni majikan.

              "Majikan  saya  itu  pergi  ke  Jeddah  naik  mobil  sendiri.  Paginya  sarapan  bersama  istrinya.
              Malamnya makan di restoran. Saya nggak merasa bersalah. Sampai di pengadilan saya ditanya-
              tanya dan akhirnya dihukum mati. Saya tetap sabar aja. Biar nanti Allah yang menjawab itu
              semua," ujarnya.
                                                           101
   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107