Page 199 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 199

Persetujuan tersebut disampaikan dalam pandangan mini  Fraksi PKS  yang dibacakan oleh juru
              bicara  Fraksi PKS  , Amin Ak dalam Rapat Pengambilan Keputusan penyusunan RUU tentang
              Perlindungan Pekerja Rumah Tangga yang digelar Badan Legsilasi DPR RI, di Gedung DPR RI,
              Rabu (1/7/2020).

              Dalam pandangannya,  Fraksi PKS  menyampaikan perlindungan PRT merupakan bagian tidak
              terpisahkan  dari  perlindungan  oleh  negara  terhadap  warga  negaranya  yaitu  memberikan
              perlindungan hukum dan perlindungan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh tiap warga negara.
              Fraksi  PKS  memandang  hadirnya  UU  yang  mengatur  tentang  perlindungan  terhadap  PRT
              merupakan  bentuk  kehadiran  negara  dalam  memberikan  perlindungan  terhadap  seluruh
              warganya.

              "Ada jutaan WNI yang menjadi PRT baik di dalam negeri maupun di berbagai negara, namun
              mereka  belum  memiliki  instrumen  hukum  yang  bisa  melindungi  mereka  sebagaimana
              perlindungan yang diberikan kepada pekerja sektor formal lainnya," kata Amin.

              Terkait pembahasan RUU Perlindungan PRT,  Fraksi PKS  memberikan beberapa catatan.

              Pertama,  Fraksi PKS  mengapresiasi hadirnya RUU Perlindungan PRT karena kita membutuhkan
              UU yang bertujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada PRT dan Pemberi Kerja melalui
              implementasi  nilai-nilai  keadilan,  kesejahteraan,  kepastian  hukum  dan  kemanusiaan  yang
              terkandung di dalam RUU PPRT ini.

              Kedua,  Fraksi PKS  mengharapkan perlindungan terhadap PRT yang diatur didalam RUU ini
              dapat memberikan perlindungan terhadap setiap orang atas pengakuan, jaminan, perlindungan,
              kepastian hukum yang adil, perlakuan yang sama dihadapan hukum.

              Fraksi PKS mengharapkan RUU ini juga mengatur hak PRT untuk bekerja serta mendapatkan
              imbalan,  perlakuan  yang  adil  dan  layak  dalam  hubungan  kerja,  perlindungan  diri  pribadi,
              keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya.

              "PRT  berhak  untuk  mendapatkan  rasa  aman,  bebas  dari  penyiksaan  atau  perlakuan  yang
              merendahkan  derajat  martabat  manusia  dan  perlindungan  dari  ancaman  ketakutan  untuk
              berbuat  atau  tidak  berbuat  sesuatu  sebagaimana  telah  diatur  dalam  Undang-Undang  Dasar
              Negara Republik Indonesia Tahun 1945," kata Amin.

              Ketiga,  Fraksi PKS  memandang perlu untuk mempertimbangkan beberapa usulan lain yang
              dianggap relevan di dalam draft akhir RUU PPRT ini.

              Misalnya muatan Perjanjian Kerja yang diatur di dalam Pasal 8 Ayat (1) paling sedikit memuat
              satu poin tambahan yaitu mengenai Jam Kerja.

              Pencantuman jam kerja di dalam Perjanjian Kerja dianggap perlu untuk memenuhi hak-hak si
              PRT sebagaimana diatur didalam Pasal 11 RUU ini.

              Pasal 11 tersebut memberikan hak kepada PRT untuk bekerja pada jam Kerja yang manusiawi.

              Tetapi jam kerja tersebut tidak diatur secara jelas di dalam RUU dan tidak pula diwajibkan untuk
              dimuatkan didalam Perjanjian Kerja.

              "Kami meminta diwujudkannya jam kerja yang fair bagi PRT dengan memasukkan jam kerja
              didalam Perjanjian Kerja," pungkas Amin..




                                                           198
   194   195   196   197   198   199   200