Page 104 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 05 JULI 2019
P. 104
Dia menambahkan usulan revisi UU Ketenagakerjaan muncul karena uji materi
terhadap undang-undang itu di Mahkamah Konstitusi (MK) sudah dilakukan
sebanyak 30 kali. Selain itu, kata Hanif, UU Ketenagakerjaan masih banyak "bolong-
bolongnya." "Kami masih mencari masukan dari semua pihak seperti dunia usaha,
serikat pekerja, akademisi, dan masyarakat, " kata dia.
Perubahan di sektor bisnis juga mempengaruhi aspek ketenagakerjaan. Hanif
menilai Indonesia membutuhkan perbaikan "ekosistem ketenagakerjaan" yang saat
ini masih terlalu kaku.
"Mau cari pekerja skill berketrampilan sulit, proses hubungan industrial terkesan
mengarah kepada apa yang disebut 'menang-menangan', sehingga masing-masing
bertolak dari kekuatan atau power relations bukan human relations ," ujar Hanif.
Oleh karena itu, dalam melakukan kajian, Kementerian Ketenagakerjaan juga
melakukan studi banding ke beberapa negara lain agar ekosistem ketenagakerjaan
Indonesia bisa lebih kompetitif.
Dia mencontohkan kasus dampak perang dagang yang memicu relokasi sejumlah
perusahaan dari Cina ke sejumlah negara.
"Ternyata banyak yang dikirim ke Vietnam. Padahal dari sisi produktivitas tenaga
kerja, kita lebih bagus. Kenapa? Itu harus dilihat semua faktor pembentuk dari
ekosistem ketenagakerjaan agar lebih kompetitif," kata Hanif.
Page 103 of 104.

