Page 169 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 169

tetapi  juga sebagai penjaga kedaulatan dan medan komunikasi sosial budaya berbagai
                            suku bangsa, masyarakat, dan bangsa lain.

                            Pentingnya laut ini sudah sangat disadari oleh founding fathers kita tatkala republik
                            ini berdiri. Fokus perhatian mereka adalah  bagaimana menjaga wilayah negara kita
                            yang begitu luas dari Sabang sampai Merauke. Hal ini sudah diangkat dalam sidang
                            BPUPKI  pada  tanggal  10 Juli  1945. Dalam  sidang  itu  dianalogikan  bahwa  negara
                            kita bagaikan sebuah rumah. Batas luar wilayah merupakan pagar  rumah kita yang
                            harus dipagari agar rumah kita dapat terjaga dengan baik. (Risalah Sidang BPUPKI,
                            Sekretariat Negara RI, 1995, hlm. 152).

                            Dari khazanah pengetahuan kita, kita juga masih ingat bagaimana anggota BPUPKI,
                            Mohammad Yamin, mengutip ajaran Hugo Grotius yang mengatakan bahwa semboyan
                            laut merdeka (mare liberum) tidak dapat diterapkan dalam wilayah Indonesia karena
                            negara ini memiliki pantai yang sangat panjangterdiri atas beribu-ribu pulau.  Dengan
                            demikian, apabila prinsip ini diterapkan, hal itu akan mengakibatkan terganggunya
                            kedaulatan bangsa, merugikan para nelayan dan pelaut, serta melemahkan pembelaan
                            negara. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memperjuangkan penentuan batasan
                            daratan dan lautan sehingga akan dengan jelas diketahui  batas laut kita dan  batas laut
                            negara tetangga dan  batas laut internasional. Dengan mengetahui batas laut itu, kita
                            akan lebih mudah melindungi wilayah negara kita dari ancaman musuh yang datang
                            melalui laut.

                            Berakhirnya  kekuasaan  Eropa  di  Asia  Tenggara  sebagai  dampak  langsung  dari
                            terjadinya Perang Dunia ke II di Eropa membawa paradigma baru dalam kehidupan
                            bernegara di wilayah ini.  Munculnya negara-negara baru menggantikan hegemoni
                            kekuasaan Eropa juga membawa perubahan di seluruh dunia, khususnya di  Asia
                            Tenggara. Sistem pembagian wilayah lama yang menentukan garis batas pada era
                            kolonial  berubah  seiring dengan  hilangnya  kekuasaan  mereka  digantikan  dengan
                            kekuasaan yang baru.

                            Di Asia  Tenggara  kedigdayaan  bala  tentara  Jepang dianggap sebagai  sesuatu yang
                            fenomenal. Dalam waktu dua bulan, Jepang telah menguasai wilayah yang luasnya
                            sama dengan luas seluruh wilayah Eropa Barat.  Setelah Vietnam dijadikan pangkalan
                            oleh Jepang, dalam waktu dua minggu benteng pertahanan kekuatan Barat di Malaya
                            dan Singapura  berhasil  dilumpuhkan.  Pasukan koalisi  Inggris-India  dan Australia
                            tidak mampu membendung gempuran pasukan Jepang. Komandan pasukan Inggris-
                            India-Australia I.E. Percival akhirnya harus menyerah kalah pada  15 Februari 1942
                            dan  menyerahkan  wilayah  itu  kepada  Panglima  Tentara  XXV  Jepang  di  bawah
                            komando Letnan Jendral Tomoyuki Yamashita (John Bastin, 1994).


                            Kejatuhan Malaya dan Singapura membuat khawatir bagi pemerintah wilayah koloni
                            Hindia Belanda dan negeri Belanda karena sudah dapat diduga sebelumnya Jepang
                            akan melanjutkan ekspansinya ke wilayah  ini.  Pertahanan yang disiapkan secara
                            terburu-buru menyebabkan armada laut Jepang dengan mudah menyusup ke selatan


              152                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174