Page 42 - E-BIOSTORIETTE STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TUMBUHAN
P. 42

Usia kita semua yang tidak begitu berbeda jauh, sehingga memudahkan
        kita untuk dapat saling mengenal dengan cepat. Dulu aku masih ingat betul, aku
        dan Atang yang lebih dulu bertugas mengurus perusahaan, setelah baru beberapa
        hari bekerja, ia sudah membawa Epid dan Tera ke rumah untuk bermain.
        Bersenda gurau dengan adik Epid itu. Ini yang membuat kita menjadi lebih cepat
        akrab. Sayangnya, seberapa lama keluarga kami mengenal mereka, sekalipun
        mereka belum pernah mengajak kami untuk datang ke rumahnya, selalu saja ada
        alasan  untuk  mengelak.  Kami  pun   tidak  pernah  berpikir  jauh  dan
        mempermasalahkan itu, karena yang terpenting hubungan kita tetaplah baik.
                Suatu hari itu tiba. Hari dimana mataku bebas memandang kisah drama
        nyata. Seperti sedang masuk ke dalam skenario sebuah film drama. Setelah
        menontonnya, aku sedikit diam, mendalami apa karakter tokoh yang kumainkan
        di dalamnya. Antagoniskah? Protagonis? Atau hanya Figuran? Atau apa? Sampai
        pada akhirnya, kak Atang datang membawaku dalam sebuah diskusi panjang di
        ruang tamu. Kalimatnya begitu hati-hati, menyentuh, dan membuatku menangis.
        Kemudian ia mengeluarkan satu kalimat terakhir diskusi, “Kamu harus seperti
        aroma penenang, belajar menjadi posisi mereka, beri mereka kebahagiaan yang
        sempat keluarga kita ambil, meskipun itu hanya sebentar.”
                Sebenarnya ada alasan kuat yang membuat kami menjadi lebih merasa
        bersalah, sehingga kami merasa harus benar-benar berguna dan membantu
        keluarga jaringan tumbuhan. Di sisi lain, kami terkenang oleh seorang ibu yang
        datang bersama ayah. Sudah lama ayah berusaha mengenalkannya kepada kami,
        berharap kerinduan kepada ibu kami yang sudah tiada akan terobati. Setelah
        mengenalnya, kami merasa wanita itu seperti sosok ibu yang dulu selalu ada
        untuk kami. Tentu ini bukanlah waktu yang singkat untuk mempercayai
        kehadirannya sebagai bagian baru dari keluarga kami. Awalnya kami juga sama,
        menjadi keluarga yang dipenuhi rasa kecewa. Bagaimana tidak? Belum lama
        sejak ibu meninggal, belum sembuh luka dan duka kami ini, kemudian tiba-tiba
        ayah datang bersama seorang wanita yang tidak pernah kami kenal sebelumnya.
        Saat ayah berkata, “Ini Ibu Meri kekasih ayah, semoga kalian mau menerima dan
        menganggapnya sebagai keluarga, ayah ingin menikahinya.” Saat itulah mataku
        dan saudara-saudaraku saling beradu tatap. Kami terkejut, tak habis pikir dengan
        keputusan ayah. Itulah yang membuat kami merasa lebih kesal. Rasanya seperti
        jatuh ke air, lalu ditenggelamkan, sesak.


                                         16
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47