Page 599 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 APRIL 2021
P. 599
BAKAL BANYAK PERUSAHAAN MANGKIR BAYAR THR
Kementerian Ketenagakerjaan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/IV/2021
tentang pemberian THR 2021.
Surat edaran tersebut merupakan surat rutin yang dikeluarkan tiap tahun menjelang Hari Raya
Idul Fitri. Namun tahun ini ditandatangani lebih cepat yaitu awal Ramadan atau 12 April 2021.
Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan, surat edaran ini menimbulkan
ketidakpastian dan tidak masuk logika berpikir normal. Alasannya, pada poin 1 menyebut bagi
perusahaan yang tidak mampu dan membuat kesepakatan dengan buruh.
Adapun kesepakatan dibuat secara tertulis yang memuat waktu pembayaran THR dengan syarat
paling lambat dibayar sebelum hari raya keagamaan 2021. Poin ini hanya mengubah waktu
pembayaran dari H-7 ke H-1 dan tidak membuka ruang perusahaan yang tidak mampu untuk
mencicilnya.
“Dengan klasula tersebut saya menilai pengusaha yang tidak mampu karena terdampak Covid-
19 dipaksa membayarkan THR paling lambat H1 (sebelum hari raya). Saya nilai klausula ini
sangat membingungkan dan sangat sulit dilaksanakan oleh Perusahaan,” ujar Timboel, Jakarta,
Selasa (13/4).
Timboel menilai perusahaan akan sangat kesulitan apabila tidak mampu membayar THR pada
H-7 karena terdampak Covid-19 dan tidak diberi ruang mencicil namun diwajibkan membayar
THR H-1. “Saya kira perusahaan akan sangat sulit mencari dana dalam waktu 6 hari,” jelasnya.
Kewajiban pembayaran H1 bagi perusahaan yang terdampak covid-19, tentunya akan juga jadi
masalah bagi buruh karena bila H-1 tidak juga dibayarkan oleh perusahaan, tak ada lagi solusi
yang bisa diambil.
“Apa yang bisa dilakukan pengawas Ketenagakerjaan? karena pada H-1 dipastikan Pengawas
Ketenagakerjaan, manajemen dan pekerja sudah libur,” katanya.
Walaupun pembayaran THR di H-1 dilakukan maka pekerja tidak memiliki cukup waktu untuk
berbelanja mempersiapkan kebutuhan sebab besoknya sudah Hari Raya. Dana THR kemudian
berpotensi tidak bisa dibelanjakan.
“Sehingga harapan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dana THR
untuk mendukung konsumsi masyarakat tidak tercapai,” jelas Timboel.
Dengan fakta ini perubahan waktu pembayaran THR dari H7 ke H-1, maka peluang pengusaha
yang terdampak Covid-19 untuk mengemplang bayar THR akan semakin besar, karena tidak
diberi ruang untuk mmbangun kesepakatan membicarakan termin pembayaran.
“Kalau hanya mengubah waktu pembayaran dari H-7 ke H-1 maka poin 2, 3 dan 4 akan relatif
percuma, mengingat akan ada kesulitan perusahaan yang terdampak covid-19 untuk membayar
THR pada H-1,” kata Timboel.
Timboel menambahkan, surat edaran ini membuat ketidakpastian pembayaran THR bagi buruh
oleh perusahaan terdampak Covid-19 semakin besar. Dia menilai, surat ini seperti jalan tengah
yang diambil Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah yang tidak mau berkonfrontasi dengan Menko
Airlangga yang meminta THR tidak boleh dicicil.
“Menteri Ketenagakerjaan bersepakat dengan Menko Perekonomian dengan mengorbankan
buruh. Ini salah satu prestasi buruk Menteri Ketenagakerjaan yang gagal memberikan kepastian
bagi pekerja untuk mendapatkan THR,” tandasnya. (mc)
598

