Page 468 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 AGUSTUS 2021
P. 468

PT MUTIARA JAWA DISOMASI KARYAWANNYA KARENA PHK TANPA BERI
              PESANGON
              Jakarta - Diduga telah memutus hubungan kerja secara sepihak, PT Mutiara Jawa, perusahaan
              yang bergerak di bidang angkutan laut domestik khusus untuk barang, mendapat somasi dari
              karyawannya. Pasalnya, perusahaan dengan pemegang saham asal Korea itu melakukan PHK
              tanpa memberi pesangon apapun.

              Somasi  itu  dilayangkan  Andika  Poetra  Utama,  karyawan  PT  Mutiara  Jawa  yang  bekerja
              diperusahaan itu semenjak tahun 2016 lalu. Andika di PHK tanggal 2 Oktober 2020 oleh Direktur
              Utama perusahaan itu, Choi Jun Ho tanpa memberikan pesangon.

              Atas hal itu, Andika pun lantas mengadukan perusahaan Korea itu ke Dinas Tenaga Kerja Jakarta
              Selatan. Tanggal 15 Maret 2021, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta pun
              kemudian memutuskan bahwa PT Mutiara Jawa wajib membayarkan pesangon kepada Andika
              Poetra.
              Jumlah pesangon yang harus dibayarkan mencapai Rp 419 juta lebih. Tapi surat anjuran dari
              Disnaker DKI Jakarta itu tak juga digubris oleh PT Mutiara Jawa. Alhasil melalui kuasa hukumnya
              dari kantor hukum Daar Afkar & Co. Lawyers, Andika melayangkan somasi terhadap perusahaan
              dari negeri ginseng tersebut.
              "Ini sudah pelanggaran hukum berat dari perusahaan asing terhadap warga negara Indonesia,"
              tegas Ahsani Taqwim Siregar selaku kuasa hukum Andika kepada wartawan di Jakarta, Jumat
              (27/8).

              Karena, menurut Ahsani, berdasarkan data dan fakta yang terjadi, perusahaan itu tak hanya
              sekali  melakukan  pelanggaran  hukum  seperti  itu.  Beberapa  karyawan  yang  telah  bekerja
              mengabdi di sana juga mengalami perlakuan serupa.

              "Perusahaan  selalu  beralasan  adanya  pelanggaran  hukum  berat  untuk  mengelak  dari
              pembayaran pesangon," tambahnya.

              Dari situlah Ahsani Siregar menegaskan agar perusahaan asing itu bersedia mematuhi hukum
              Indonesia. "Jika tidak, maka ini menjadi masalah besar dikemudian hari," paparnya lagi.

              Bukan itu saja, kata dia, perusahaan tersebut juga ditenggarai tak memenuhi syarat pelayaran
              sesuai peraturan pemerintah tentang angkutan di perairan. Hal itu, kata Ahsani berdasarkan
              hasil  penyelidikan  internalnya  bahwa  disebutkan  PT  Mutiara  Jawa  banyak  sekali  melanggar
              peraturan, setidaknya ada dua ketentuan yang dilanggar.

              "Jelas sekali bahwa perusahaan ini nampak mengabaikan peraturan yang ada. Pemerintah harus
              tegas, jika perlu dicabut izin olah geraknya," beber Ahsani.
              Ahsani menjelaskankan bahwasannya perusahaan ini adalah perusahaan asing yang melakukan
              usaha patungan (joint venture). Menurut PP No.20/2010 Pasal 96 ayat 1, bahwa mereka harus
              memiliki kapal berkapasitas ukuran paling kecil 5.000 GT (Gross Tonnage).

              Selain itu juga tongkang yang mereka miliki tidak memiliki mesin. Padahal dalam PP tersebut
              pasal 94 ayat 4 huruf (d) disebutkan seharusnya tongkang mereka bermesin dengan ukuran
              paling kecil 175 GT.

              "Memiliki tongkang bermesin berbendera Indonesia yang laik laut dengan ukuran paling kecil GT
              175," pungkas Ahsani mengutip PP No.20/2010 pasal 94 ayat 4 huruf (d).



                                                           467
   463   464   465   466   467   468   469   470   471   472   473