Page 525 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 MEI 2021
P. 525
di bawah 5 ribu orang/hari. Angka tersebut harus terjadi selama seminggu berturut-turut.
Ketentuan pembukaan penempatan PMI ke Taiwan tersebut berdasarkan pada pertemuan MoL
Taiwan dengan CECC (Central Epidemic Command Center).
PENEMPATAN PEKERJA MIGRAN INDONESIA KE TAIWAN SEGERA DIBUKA
KEMBALI
Otoritas Taiwan akhirnya memberi lampu hijau untuk pengiriman pekerja migran Indonesia
(PMI). Sebelumnya, PMI ditolak masuk lantaran banyak yang terdeteksi positif Covid-19 saat tiba
di negara tersebut.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengatakan, pihaknya sudah menerima surat
dari Ministry of Labour (MoL) Taiwan tentang rencana pembukaan penempatan PMI ke Taiwan.
Dalam surat tersebut disampaikan bahwa salah satu syarat penempatan kembali ke Taiwan
adalah angka pertambahan kasus Covid-19 di Indonesia harus di bawah 5 ribu orang/hari. Angka
tersebut harus terjadi selama seminggu berturut-turut. Ketentuan pembukaan penempatan PMI
ke Taiwan tersebut berdasarkan pada pertemuan MoL Taiwan dengan CECC (Central Epidemic
Command Center).
Menurut Ida, pemerintah Indonesia sangat serius dan terus bekerja keras menurunkan angka
penularan Covid-19. Kerja keras ini pun akhirnya membuahkan hasil, pada 9 Mei 2021, jumlah
kasus baru terus menurun menjadi 3.922 kasus baru.
"Jika angka ini dapat terus kita tekan, maka penempatan PMI ke Taiwan dapat segera dibuka
Kembali," ujarnya di Jakarta, Selasa (11/5).
Selain angka penambahan kasus, lanjut Ida, untuk dapat menempatkan kembali PMI ke Taiwan,
Pemerintah Indonesia juga telah melakukan langkah-langkah pembaharuan SOP penempatan
PMI pada masa adaptasi kebiasaan baru ke Taiwan. SOP ini memuat di antaranya penerapan
protokol kesehatan secara ketat sebelum calon PMI (CPMI) berangkat ke luar negeri.
"Apabila kondisi yang dipersyaratkan Taiwan telah terpenuhi, Kemenaker segera
menginformasikan kepada Otoritas Taiwan sebagai dasar untuk membuka kembali penempatan
PMI ke Taiwan," papar politikus PKB tersebut.
Untuk mempersiapkan rencana pembukaan penempatan ini, Menaker Ida telah meminta pihak-
pihak terkait, seperti jajaran Kemenaker, P3MI, dan asosiasi P3MI untuk mempersiapkan diri
sesuai dengan SOP. Ia pun menegaskan akan menindak tegas siapapun yang tidak menjalankan
SOP dengan baik. Mengingat, pemblokiran penempatan PMI ke Taiwan sebelumnya disebabkan
oleh P3MI nakal yang tak sesuai SOP. Sehingga banyak CPMI tak mendapat tes kesehatan yang
valid.
"Termasuk BLKLN yang tidak disiplin dan tidak mentaati SOP pada saat melatih para pencari
kerja yang akan bekerja ke luar negeri," tegasnya.
Terpisah, Direktur Migrant Care Wahyu Susilo memiliki pandangan berbeda soal penempatan
kembali PMI ke luar negeri (LN). Menurutnya, dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih
berkecamuk baik di dalam negeri maupun di LN, penempatan PMI baiknya tidak dilakukan dulu.
Hal ini tentu demi keselamatan PMI itu sendiri.
"Saya tidak ingin PMI kita jadi kelinci percobaan," tegasnya.
Wahyu memahahi, bila penempatan tak dibuka maka banyak CPMI yang akan tersandera. Sebab,
sudah terlanjur bayar pada P3MI untuk diberangkatkan ke salah satu negera penempatan. Atas
524

