Page 698 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 698

BURUH KECEWA DENGAN SURAT EDARAN THR DARI MENAKER

              Jakarta - Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek) Mirah Sumirat mengaku kecewa
              dengan  keputusan  Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  mengeluarkan  Surat  Edaran  (SE)
              nomor M/6/HK.04/IV/2021 terkait Tunjangan Hari Raya ( THR ) Keagamaan 2021.

              Menurutnya, SE tersebut tersebut berpotensi menjadi tameng bagi pengusaha untuk mengindari
              kewajibannya membayarkan THR secara tepat waktu dan tanpa dicicil.

              "Poin  tuntutan  kami  adalah  jangan  ada  surat  edaran.  Karena  dengan  itu,  pengusaha  yang
              sebelumnya mampu bayar THR jadi punya peluang untuk berlindung dan tidak membayarkan
              THR-nya secara penuh," ujarnya kepada CNNIndonesia.com Senin (12/3).

              Terlebih,  tak  ada  pihak  yang  secara  khusus  mengawasi  pelaksanaan  pemberian  THR  oleh
              perusahaan di lapangan. Artinya, pengusaha bisa memutuskan secara sepihak THR untuk dicicil
              meski ada kewajiban memberikan laporan keuangan mereka selama 2 tahun.

              Karena itu lah, kata dia, sejak awal buruh dengan tegas meminta ketentuan THR mengacu pada
              Undang-undang Ketenagakerjaan tanpa perlu keluarnya surat edaran.

              "Kalau menurut saya surat edaran ini fatal lah, ndablek lah. Intinya, poinnya, jangan keluarkan
              surat  edaran  karena  sudah  ada  mekanisme  tersendiri  terkait  mekanisme  mampu  dan  tidak
              mampu di Undang-Undang," jelasnya.

              Mirah  juga  menyatakan  buruh  berencana  kembali  menggelar  aksi  di  kantor  Kementerian
              Ketenagakerjaan untuk menentang surat edaran itu.

              "Sesuai instruksi organisasi kita aksi sampai di depan Mahkamah Konstitusi hari ini. Karena kalau
              kita mau bicara di kementerian kita secara administrasi belum memenuhi syarat pemberitahuan,
              tapi  setelah  ini  kami  akan  rapat  kembali  untuk  rencana  kita  geruduk  Kementerian
              Ketenagakerjaan," tandasnya.

              Namun, keringanan pembayaran hanya dibolehkan sampai dengan sebelum lebaran 2021 atau
              H-1.

              "Perusahaan yang tidak mampu bayar THR 2021 sesuai ketentuan maka dilakukan dialog untuk
              disepakati  pembayarannya.  Kalau  di  sini  memang  ada  jeda  panjang.  Tapi  setelah  pelajari
              masukan dari berbagai pihak maka penundaan hanya dibolehkan (sampai) sebelum pelaksanaan
              hari raya," katanya.

              Sementara itu bagi perusahaan yang mampu, Ida meminta untuk membayar THR tepat waktu
              sesuai dengan yang sudah diatur pemerintah.

              "Kami  mohon  kerja  sama  kepada  kepala  daerah  untuk  memastikan  perusahaan  bayar  THR
              kepada pekerja sesuai aturan perundangan," tegasnya.

              (hrf/agt).














                                                           697
   693   694   695   696   697   698   699   700   701   702   703