Page 4 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2021
P. 4

PANDEMI BIKIN PEKERJA KEHILANGAN PENGHASILAN RP 1.000 TRILIUN

              Jutaan buruh ataupun pekerja di Indonesia telah kehilangan jam kerja akibat pandemi korona
              (Covid-19).  Tak  pelak,  pendapatan  mereka  pun  turun  drastis,  Menteri  Perencanaan
              Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan kehilangan jam
              kerja itu tidak berarti mereka menjadi pengangguran, tetapi waktu kerja yang mereka peroleh
              lebih sedikit sehingga memengaruhi perhitungan upah atau gajinya.

              "Minimal separuh dari waktu kerjanya. Jadi kalau dia kerja 40 jam per minggu, mungkin dia
              kehilangan 20 jam per minggu," ujar Suharso dalam video virtual kemarin.

              Menurut dia, para pekerja yang kehilangan pekerjaan itu berasal dari sektor industri manufaktur
              dan pariwisata. Di industri manufaktur sebanyak 12 juta pekerja dan pariwisata sebanyak l8 juta
              pekerja.

              "Akibatnya dari sektor pariwisata saja dan industri manufaktur, hitungan kami kira-kira sekitar
              Rp360 triliun penghasilan yang hilang dari sekitar 30 juta pekerja," bebernya.

              Dengan total 30 juta pekerja yang telah kehilangan jam kerja optimalnya, Suharso menyebutkan
              bahwa total keseluruhan pendapatan yang hilang pada 2020 adalah sebanyak Rp360 triliun. Itu
              belum termasuk industri yang tidak langsung terdampak.

              Jika perhitungan dimasukkan dengan berbagai industri lainnya, terutama yang tidak langsung
              terdampak  oleh  Covid-19,  menurutnya  penghasilan  para  pekerja  di  Indonesia  telah  hilang
              mencapai kisaran Rp1000 triliun.

              "Sebanyak 18 juta di industri manufaktur, 12 juta kira-kira di pariwisata, dan kalau kita hitung
              sampai industri direct impact dan indirect impact itu sudah mendekati Rp1000 triliun," tandasnya.

              Peneliti  Indef  Nailul  Huda  mengatakan  sepertinya  tahun  ini  masalah  pengangguran  dan
              pendapatan pekerja yang berkurang bakal berlanjut. Bahkan jika penanganan pandemi masih
              amburadul  dan  program  pemulihan  ekonomi  belum  optimal,  besar  kemungkinan  masalah
              pengangguran akan meningkat.

              Namun Huda melihat permasalahan pandemi ini dari sisi permintaan masyarakat yang menurun
              yang  menyebabkan  produksi  di  industri  manufaktur  ataupun  pariwisata  sangat  turun  tajam.
              "Mereka ngapain produksi tapi barangnya tidak laku dipasar kan? Nah penyebab menurunnya
              permintaan ada dua yang utama, masyarakat masih takut untuk konsumsi secara langsung dan
              masyarakat tidak punya dana untuk melakukan konsumsi," katanya saat dihubungi di Jakartan
              kemarin.

              Dengan angka kasus Covid-19 yang terus meroket, masyarakat semakin takut mengonsumsi
              barang secara langsung. Mereka juga takut untuk berwisata. Maka penting untuk menangani
              pandemi terlebih dahulu.

              Sementara  itu  pada  2021,  indikator  sosioekonomi  adalah  lagging  indicators.  Hal  tersebut
              berpotensi mengalami pemburukan lebih lanjut sejalan dengan masih rendahnya kemampuan
              ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

              "Setiap tahunnya, sebagai implikasi dari bentuk piramida penduduk Indonesia, ada sekitar 2,7
              juta orang yang masuk ke angkatan kerja. Menurut estimasi statistik yang kerap dipakai oleh
              badan pemerintah, ada sekitar 300.000 lebih lapangan kerja yang bisa diciptakan untuk setiap
              1%  pertumbuhan  ekonomi,"  kata  Chief  Economist  CIMB  Niaga  Adrian  Panggabean  saat
              dihubungi di Jakarta kemarin.




                                                            3
   1   2   3   4   5   6   7   8   9