Page 150 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MARET 2021
P. 150
Menurutnya, dari 440 perusahaan dengan tenaga kerja sekitar 237 ribu orang, tenaga kerja
disabilitas yang terserap baru sekitar 2.851 orang atau sekitar 1,2 persen saja.
Berdasarkan data survei Angkatan Kerja Nasional (Sakemas) pada Agustus 2017, penduduk usia
kerja disabilitas nasional sebanyak 21,9 juta orang. Dari jumlah tersebut, hanya 10,8 juta orang
yang sudah bekerja.
Penyandang disabilitas dapat diartikan sebagai kelompok masyarakat yang beragam yang
mengalami disabilitas mental, fisik maupun gabungan dari disabilitas fisik dan mental, tulis Epti.
"Kondisi penyandang disabilitas tersebut tentu akan berdampak pada kemampuan berpartisipasi
mereka di tengah masyarakat baik itu dampak yang besar ataupun kecil sehingga mereka pasti
akan memerlukan bantuan dan dukungan dari orang-orang sekitarnya," tulis Epti dalam
penelitiannya, dikutip Senin (8/3/2021).
Minimnya serapan tenaga kerja disabilitas berkaitan dengan hak hidup mereka. Dalam ketentuan
Pasal 28 A UUD 1945 yang merupakan landasan konstitusional bagi perlindungan penyandang
disabilitas dijelaskan: "setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya."
Maka dari itu, hak untuk hidup harus dimiliki setiap orang karena hak hidup merupakan bagian
dari hak asasi manusia. Penyandang disabilitas diharapkan mampu mengembangkan dan
meningkatkan kemampuan fisik, mental dan sosialnya sehingga dapat bekerja sesuai dengan
tingkat kemampuan, pendidikan dan keterampilan yang dimiliki sehingga dapat mencapai
kemandirian dan kesejahteraan di dalam kehidupannya, tulis Epti.
.
Masih sedikitnya jumlah tenaga kerja disabilitas yang terserap tidak berbanding lurus dengan
prevalensi penyandang disabilitas di Indonesia yang jumlahnya tinggi.
Epti mengutip penjelasan Kepala Tim Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Aim Halimatus Sadiah yang
menyebutkan estimasi jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 12,15 persen.
Angka tersebut termasuk kategori sedang sebanyak 10,29 persen dan kategori berat sebanyak
1,87 persen.
Sementara untuk prevalensi disabilitas provinsi di Indonesia antara 6,41 persen sampai 18,75
persen. Tiga provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi adalah Sumatra Barat, Nusa Tenggara
Timur dan Sulawesi Selatan.
"Dari angka 12,15 persen penyandang disabilitas, 45,74 persennya tidak pernah atau tidak lulus
SD. Angka ini tentu jauh jika dibandingkan non disabilitas yang sebanyak 87,31 persennya
berpendidikan SD ke atas," tulis Epti.
Riset juga menunjukkan, jumlah penyandang disabilitas lebih banyak perempuan yaitu 53,37
persen. Sedangkan sisanya 46,63 persen adalah laki-laki.
149

