Page 18 - GEMA_20180513_REV
P. 18

GEMA [18]

          BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB - MEI 2018



          GERAKAN EKUMENIS:
         BAHAN PA BULAN MEI 2018
          Belajar dari Sejarah Pembentukan DGI/PGI 25 Mei 1950

         GERAKAN EKUMENIS: Belajar dari Sejarah Pembentukan DGI/PGI 25 Mei 1950 | Yohanes 17:1-26
          Yohanes 17:1-26


         Ekumene (bahasa Inggris: Ecumene, juga dieja œcumene atau oikoumene) berasal dari kata Yunani ο�κουμένη
         (oikouménē), yang berasal dari kata όικος yang berarti “rumah” dan μενήιν yang berarti “berdiam” atau “tinggal”.
         Pada masa Alexander Agung, kata “ekumene” merujuk kepada seluruh bagian bumi yang didiami oleh manusia,
         yang umumnya didiami oleh orang-orang Yunani, sementara daerah yang didiami oleh bangsa barbar tidak
         terhitung sebagai ekumene. Sedangkan di masa Kekaisaran Romawi dan dunia Perjanjian Baru, yang juga
         dipengaruhi masa kekaisaran tersebut, kata ekumene dimaknai sebagai “dunia”, yang biasanya dimaksudkan
         sebagai dunia di bawah kekuasaan Roma. Seperti dalam Ibrani 2:5 “oikoumenen ten mellousan” digunakan untuk
         merujuk kepada Kerajaan Kristus yang akan datang (dunia yang akan datang), sebagai: “Sebab bukan kepada
         malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.”


                     Pada abad ke-20, istilah “ekumene” dipakai sebagai suatu gerakan gereja dengan istilah ekumenis, yaitu
                     upaya penyatuan atau kerjasama antara organisasi gereja di dalam kekristenan. Gerakan ini hendak
                     menyatakan semangat kesatuan umat di dalam kehidupan gereja Kristen yang berbeda-beda.



         Di Indonesia, gerakan ini dinyatakan dengan wujud keesaan gereja dalam wadah organisasi bersama
         dengan nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) yang ditetapkan dalam Konferensi Pembentukan
         DGI pada tanggal 21-28 Mei 1950. Dan pada tanggal 25 Mei 1950, ditetapkanlah Anggaran Dasar DGI, di mana pada
         saat itulah disetujui oleh peserta konferensi, dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Dewan
         Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dalam sebuah “Manifes Pembentoekan DGI”:

         “Kami anggota-anggota Konferensi Pembentoekan Dewan Geredja-geredja di Indonesia, mengoemoemkan dengan ini, bahwa sekarang Dewan
         geredja-geredja di Indonesia telah diperdirikan, sebagai tempat permoesjawaratan dan oesaha bersama dari Geredja-geredja di Indonesia,
         seperti termaktoeb dalam Anggaran Dasar Dewan geredja-geredja di Indonesia, yang soedah edubirdieplagiarism ditetapkan oleh Sidang
         pada tanggal 25 Mei 1950. Kami pertjaja, bahwa dewan Geredja-geredja di Indonesia adalah karoenia Allah bagi kami di Indonesia sebagai
         soeatoe tanda keesaan Kristen jang benar menoedjoe pada pembentoekan satoe Geredja di Indonesia menoeroet amanat Jesoes Kristoes,
         Toehan dan Kepala Geredja, kepada oematNja, oentoek kemoeliaan nama Toehan dalam doenia ini”.

         Seiring dengan perkembangan dan semangat kebersamaan itu pulalah yang turut mendasari perubahan nama
         “Dewan Gereja-gereja di Indonesia” menjadi “Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia” sebagaimana diputuskan
         pada Sidang Raya X di Ambon tahun 1984. Perubahan nama itu terjadi atas pertimbangan: “bahwa persekutuan
         lebih bersifat gerejawi dibanding dengan perkataan dewan, sebab dewan lebih mengesankan kepelbagaian dalam
         kebersamaan antara gereja-gereja anggota, sedangkan persekutuan lebih menunjukkan keterikatan lahir-batin
                                                         1
         antara gereja-gereja dalam proses menuju keesaan”.

         Belajar dari sejarah gerakan ekumenis di atas, jemaat Kristen perlu senantiasa menyadari bahwa tidak ada
         organisasi gereja manapun yang sempurna. Semua organisasi gereja harus saling melengkapi untuk pembangunan
         jemaat Kristiani secara umum, dan memperlengkapi jemaatnya masing-masing secara khusus agar setiap anggota
         jemaat yang adalah murid-murid Kristus, senantiasa hidup taat dan berpadanan dengan Sang Kepala Gereja. Semua
         itu agar para murid bersatu mengabarkan Injil, membawa perdamaian dan keadilan di tengah dunia ini, dan
         menjaga keutuhan ciptaan, sehingga dunia tahu bahwa para murid adalah satu dengan Anak dan Bapa. Inilah
         semangat doa yang Yesus Kristus panjatkan, sebagaimana dalam Yohanes 17:1-26.

         Pertanyaan pokok bagi pribadi dan komunitas:
         Apakah Saudara dan komunitas Saudara sudah membangun semangat persekutuan untuk mengabarkan Injil, membawa
         perdamaian dan keadilan di tengah dunia ini, dan menjaga keutuhan ciptaan?

         1  https://pgi.or.id/sejarah-singkat/, dikutip pada tanggal 27/4/2018, pukul 13:55.
   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23