Page 17 - 03 Nasionalis Pemuda Ulama
P. 17

Dalam perkembangannya,
                                                       Gerakan Tiga A juga
                                                    menimbulkan perpecahan di
                                                   kalangan petinggi pemerintah
                                                           Jepang sendiri.




                                                                          Menurut
                                                                 para staf Gunseikan, gerakan
                                                                 ini justru berkembang menjadi
                                                                organisasi massa dan melenceng
                                                                dari tujuan propaganda. Namun,
                                                                 baik sebagai organisasi massa
                                                                 ataupun gerakan propaganda,
                                                                 Gerakan Tiga A tidak berhasil
                                                                 mencapai tujuannya. Akhirnya,
                                                                 pada September 1942, Jepang
                                                                   membubarkan organisasi
                                                                           3A itu.






            Kegagalan Gerakan Tiga A membuat                Jepang pada 1933. Mereka menganggap
            Jepang mengubah strategi propaganda             Hatta adalah tokoh yang paling mungkin
            dengan memanfaatkan tokoh-tokoh                 diajak bekerja sama.
          6
            nasionalis, antara lain Sutan Sjahrir dan       Selanjutnya pada 26 Maret 1942, terjadi
            Mohammad Hatta.  Dua tokoh itu kembali
           Literasi Nasional  dari tempat pengasingan di Banda   pertemuan antara Hatta dan Mayor
                                                            Jenderal Harada Yoshikazu selaku kepala
            sebelum penyerangan Jepang terjadi.
                                                            staf Immamura.
            Kedua tokoh itu sebetulnya dikenal
            sebagai anti-fasisme. Hatta pernah              Meskipun sebelumnya berpandangan
            menulis di dalam surat kabar                    anti-fasis, Hatta menganggap rezim
            Pemandangan yang menyatakan                     Jepang berbeda dengan Belanda yang
            bahwa Jepang memulai perang                     tidak mengenal toleransi terhadap kaum
            dengan “tindakan perampokan”.                   yang berseberangan. Jepang lebih
            Ia memperkirakan apabila Jepang                 bersikap kaku “setuju atau mati”.
            menang perang, bangsa Indonesia
            akan mengalami “penghambaan” dan                Jepang mengangkat Hatta untuk
            “perbudakan”.                                   memimpin Kantor Penasihat Umum yang
                                                            bertugas sebagai penasihat pemerintah
            Beruntung, pada masa pendudukan                 militer Jepang.  Namun, Hatta memilih
            Jepang kaki tangan Jenderal Immamura            bekerja sama dengan Jepang sambil
            tidak mengetahui artikel tersebut. Mereka       merencanakan sebuah strategi untuk
            masih terkesan atas kunjungan Hatta ke          membebaskan bangsa Indonesia.
   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22