Page 9 - KULTUR JARINGAN FIX_Neat
P. 9
PENDAHULUAN
Kultur jaringan adalah penanaman bahan tanaman yang
bebas dari mikroba pada suatu lingkungan yang aseptik, misalnya
medium yang steril di dalam tabung reaksi, dan mencakup kultur
protoplas, sel, jaringan dan organ tanaman. Saat ini teknik kultur
jaringan telah berkembang menjadi alat yang sangat ampuh untuk
perbanyakan berbagai jenis spesies tanaman. Perkembangan
teknologi ini bermula dari spekulasi seorang ilmuwan Jerman,
Haberlandt, mengenai totipotensi sel pada awal abad ke-20.
Haberlandt menganjurkan agar teknik-teknik untuk mengisolasi
dan mengkulturkan jaringan hendaknya dikembangkan, dan dia
mempostulasikan bahwa apabila dilakukan manipulasi terhadap
lingkungan dan nutrisi dari sel-sel yang dikulturkan, maka sel-sel
tersebut akan berkembang menjadi tanaman normal.
Jaringan tanaman pertama kali berhasil dikulturkan oleh White
pada tahun 1934. Menjelang tahun 1939, White melaporkan
keberhasilan pertama kultur kalus wortel dan tembakau. Pada
tahun 1957, dipublikasikan suatu naskah kunci yang ditulis oleh
Skoog dan Miller di mana kedua pakar ini mengemukakan bahwa
interaksi kuantitatif antara auksin dan sitokinin akan menentukan
tipe pertumbuhan dan peristiwa morfogenik yang akan terjadi.
Penelitian mereka pada tanaman tembakau menunjukkan bahwa
rasio auksin:sitokinin yang tinggi akan menginduksi pembentukan
akar, sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi morfogenesis
pucuk. Namun sayangnya, pola respon demikian tidak berlaku
universal. Sementara manipulasi rasio auksin terhadap sitokinin
telah berhasil menginduksi morfogenesis pada berbagai taksa, kini
sudah semakin jelas bahwa berbagai faktor lain juga
mempengaruhi kemampuan sel-sel yang dikulturkan untuk
berdiferensiasi menjadi akar, pucuk atau embrio.
2

