Page 6 - Japanese Kanji
P. 6
Namun pada tahun 1900, Monbusho (Departemen Kependidikan Jepang) menetapkan 1.200 huruf kanji
yang harus dipelajari di sekolah dasar. Pada tahun 1981 ditetapkan daftar Jouyou Kanji yang memuat
1.945 huruf kanji.
Alasan pemilihan huruf kanji sebagai bahan kajian adalah pendekatan semiotik mengganggap
bahwa huruf kanji merupakan sebuah tanda, yang dibentuk oleh sejumlah tanda lain. Untuk
meminimalisasi kesulitan dalam belajar bahasa Jepang, terutama yang berkaitan dengan huruf kanji,
maka harus ada cara untuk memahami huruf kanji dengan lebih mudah. Salah satu cara adalah dengan
memahami huruf kanji-kanji pembentuknya atau mengenal unsur-unsur pembentuknya.
Adapun rumusan masalah yang ditemukan pada pembelajar bahasa Jepang pemula dalam
mempelajari huruf kanji tersebut, yaitu: bagaimanakah mengklasifikasikan huruf kanji sederhana yang
diajarkan pada pembelajar bahasa Jepang pemula? Dan bagaimanakah makna simbolik huruf kanji
berdasarkan hubungan makna dengan karakter pembentuk huruf kanji lainnya?
METODE PENELITIAN
Pembahasan masalah yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan
metode kepustakaan (library research). Metode deskriptif merupakan metode pemecahan masalah
dengan cara menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah
dipahami dan disimpulkan (Saifuddin, 2004:6). Metode kepustakaan merupakan metode yang
mengutamakan pengumpulan data dari beberapa buku atau referensi yang berkaitan dengan
pembahasan untuk mencapai tujuan penelitian (Mulyadi, 2006:13). Data yang dikumpulkan mengacu
pada data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber yang bukan asli
memuat informasi atau data tersebut (Tatang, 2000: 132), seperti buku, majalah, jurnal, kamus,
ensiklopedi, dan situs internet sebagai alat utama untuk mencapai tujuan penelitian.
5

