Page 71 - e-Infotory Book
P. 71

Gothakan



































             Pesantren                pada          masa           silam,          sebagaimana                     sekarang,


             sudah  terdapat  pula  kebiasaan  untuk  serah-terima  atau


             pemasrahan                   anak          didik        untuk           digembleng.                  Lazimnya,


             sebagaimana                   yang         dialami           oleh        Burham,             orangtua              ikut

             mengantarkan  dan  meminta  izin  pada  sang  kyai  untuk


             mengikutkan anaknya dalam proses belajar-mengajar.






             Tercatat,             Mas        Pajangswara                   sampai            harus         menginap                di


             Tegalsari               selama              dua           hari          dua           malam.               Setelah

             mendapatkan                      izin       dari        sang         kyai,         ia,      Burham               serta


             embannya,  Ki  Tanujaya,  diarahkan  ke  pondokan  untuk


                                                                   Hasil Warisan Syekh
             beristirahat.





             Istilah  pondok  dalam  Serat  Babad  Cariyos  merujuk  pada
                                                                                  Hasan Besari

             tempat           pemukiman                   atau        kamar            para        santri.        Di     daerah

             Ponorogo,                  pondokan                  ini       dinam akan                   pula           sebagai                                Gambar 7.24 :  Gothakan


             gothakan:                 bangunan                   terpisah              seluas            kamar              yang                           Sumber: DokumentasiPribadi


             umumnya                 terbuat           dari       bambu.             Sampai            hari       ini,     tersisa


             satu        gothakan               di     Tegalsari             yang          didirikan             di     sebelah

             Barat  rumah  Kyai  Kasan  Besari,  yang  konon  merupakan


             pondokan               khusus           Bagus          Burham             setelah           menjadi            santri


             alim.













                                                                                                Kebiasaan                 santri          baru          di      Gebang               Tinatar            adalah


                                                                                                memperkenalkan                          diri      di     hadapan               kyai         serta        santri-

                                                                                                santri  yang  sudah  lebih  dulu  nyantri.  Selepas  makan


                                                                                                bersama,                  dilanjutkan                   membaca                     kitab            maupun


                                                                                                mendaras  al-Qur’an  di  hadapan  kyai,  seturut  dengan


                                                                                                kemampuannya                          masing-masing                      (“kadhawuhan                      maos


                                                                                                kitab         utawi          Kuran,             miturut            punapa              kasagêdanipun


                                                                                                piyambak-piyambak”).






                                                                                                Dari nukilan tersebut dapat diketahui bahwa apa yang

                                                                                                kini        disebut            sebagai             “kitab-kitab                 kuning”              rupanya


                                                                                                sudah  diajarkan  di  pesantren,  sekira  pada  awal  abad


                  Gambar 7.25 :  Gothakan                                                       ke-19.          Serat          Babad            Cariyos             mengisahkan                     kegiatan

              Sumber: Dokumentasi Pribadi
                                                                                                membaca                  kitab-kitab                kuning            dengan             istilah         “maos


                                                                                                kitab” (membaca kitab).






                                                                                                                                                                                                                           64




                                                                                                                  Peranan Syekh Hasan Besari Dalam Penyebaran Agama

                                                                                                                  Islam Di Ponorogo
   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76