Page 85 - E-MODUL KEANEKARAGAMAN HAYATI BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIK.
P. 85

Keanekaragaman  hayati  adalah  keanekaragaman  makhluk  hidup  yang

                  meliputi  keseluruhan  atau  totalitas  veriasi  genetik,  spesies,  dan  ekosistem
                  pada suatu wilayah.
                  Keanekaragaman  hayati  tingkat  gen  merupakan  variasi  terjadi  dalam  satu

                  spesies  yang  sama  akibat  perbedaan  susunan  genetik.  Contohnya  adalah
                  perbedaan  warna  bunga  mawar  (merah,  putih,  kuning)  atau  varietas  pada

                  buah mangga (mangga gadung, manalagi, golek).
                  Keanekaragaman  hayati  tingkat  spesies  adalah  variasi  yang  ditemukan  di

                  antara kelompok spesies yang berbeda namun masih dalam satu famili atau
                  genus (contoh: perbedaan antara kucing, harimau, dan singa)

                  Keanekaragaman  hayati  tingkat  ekosistem  merupakan  keanekaragaman
                  yang terbentuk akibat interaksi antara faktor biotik (makhluk hidup) dengan
                  faktor  abiotik  (lingkungan)  yang  berbeda-beda  di  setiap  wilayah  (contoh:

                  ekosistem hutan hujan tropis, gurun, dan terumbu karang)
                  Pola  Persebaran  Flora  dan  fauna  di  Indonesia  dibagi  menjadi  tiga  wilayah

                  utama  berdasarkan  garis  khayal:  Zona  Asiatis  (Barat),  Zona  Peralihan
                  (Tengah), dan Zona Australis (Timur).

                  Garis  Wallace  memisahkan  fauna  tipe  Asiatis  dengan  tipe  Peralihan,
                  sedangkan  Garis  Weber  memisahkan  fauna  tipe  Peralihan  dengan  tipe

                  Australis
                  Keanekaragaman hayati berfungsi sebagai penyedia sumber pangan, bahan
                  obat-obatan herbal, bahan bangunan, sumber plasma nutfah dll.

                  Faktor  utama  penurunan  biodiversitas  adalah  aktivitas  manusia  seperti
                  deforestasi  (penebangan  hutan),  perburuan  liar,  pencemaran  lingkungan,

                  dan masuknya spesies asing yang invasif.
                  Upaya  perlindungan  dilakukan  dengan  dua  cara:  In-situ  (dilakukan  di

                  habitat asli, contoh: Taman Nasional) dan Eks-situ (dilakukan di luar habitat
                  asli untuk rehabilitasi, contoh: Kebun Raya atau Kebun Binatang).













                                                           72
   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90