Page 69 - Mahadelta: Manifesto Penguasaan Tanah Terlarang
P. 69

5) Tanah Diam, yaitu tanah tempat tinggal untuk mendirikan rumah/
            pondok, tanah tersebut menjadi milik perorangan yang mendirikan.
                Namun demikian, raja-raja Kutai Kartanegara saat itu tidak
            menganggap diri mereka memiliki kekuasaan atas tanah secara absolud,
            mengingat luasnya wilayah kerajaan dan minimnya jumlah penduduk.
            Sehingga tanah bukan menjadi sesuatu yang sangat berharga dan berarti
            sebagai unsur pembobot bagi sebuah kekuasaan. Mengingat  Kesultanan
            Kutai termasuk kategori yang disebut  Van Leur sebagai kerajaan maritim,
            yang secara struktural berbeda dari kerajaan agraris (Abdullah, 1985).
            Di wilayah Kerajaan Kutai, menurut catatan Zweger bahkan tidak
            ditemukan tanah desa atau ulayat yang setiap tahun dibagikan pada
            berbagai golongan penduduk yang berhak untuk dikerjakan; peraturan-
            peraturan yang mengikat kepentingan bersama kepada desanya dan
            hubungan yang mengutamakan kepentingan masyarakat umum, yang di
            Pulau Jawa sangat dikagumi. Meskipun demikian masyarakat setempat
            mengenal istilah “ rodi”, untuk kerja wajib bagi setiap penduduk yang
            memiliki tanah; istilah itu menjadi penjelas hak “yang dipertuan” atas
            sebagian dari semua hasil tanah yang dikerjakan, sebagai ganti rugi atas
            “kedaulatan raja” atau pajak atas tanah. Yang berhasil ditemukan Zweger
            di daerah ini hanyalah penerapan zakat (sesuai hukum Islam) dan hak
            perorangan yang melekat pada setiap orang yang pertama kali membuka
            tanah hutan.
                Umumnya sistem kepemilikan tanah di dalam wilayah kedaulatan
            Kerajaan Kutai Kartanegara pada masa lalu dilakukan dengan cara,
            meminta izin pada penguasa kerajaan (Sultan) melalui Petinggi Kampung
            dimana tanah tersebut berada, untuk mendapatkan hak membuka tanah,
            dengan jalan pewarisan dan memindah tangankan menurut hukum adat.
            Pada dasarnya setiap penduduk yang berdiam di dalam wilayah Kerajaan
            ini berhak untuk memiliki tanah perorangan. Tanah yang akan dimiliki
            tersebut syaratnya haruslah “tanah bebas”, artinya belum dimiliki oleh
            orang lain atau telah berpindah tangan karena dijual/diberikan. Tanah
            kerajaan yang diberikan sebagai tanah hak milik perorangan, adalah tanah





           42                     Mahadelta: Manifesto Penguasaan Tanah Terlarang
   64   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74