Page 152 - Reforma Kelembagaan dan Kebijakan Agraria (Hasil Penelitian Strategis STPN 2015)
P. 152
Hasil Penelitian Strategis STPN 2015 137
berpendapat bahwa nilai tanah senantiasa naik seiring dengan waktu
dan merupakan satu kontrol yang baik terhadap inflasi. Bahkan Nopirin
(1996:143), menjelaskan bahwa tanah dan rumah merupakan salah satu
bentuk kekayaan yang umurnya panjang. Oleh karena itu permintaan akan
tanah merupakan bagian dari penentuan jenis bentuk kekayaan yang ingin
dimiliki oleh seseorang (teori portofolio/pilihan investasi).
2. Pertumbuhan Ekonomi
Terkait dengan pasar tanah, menurut Ricardo (dalam Arsyad, 2010)
perlu asumsi bahwa :
a. Jumlah tanah terbatas;
b. Akumulasi modal terjadi jika tingkat keuntungan yang diperoleh
para pemilik modal berada di atas tingkat keuntungan minimal yang
diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.
Dalam teori ini dapat dimaknai bahwa pertumbuhan ekonomi berkaitan
erat antara terbatasnya luas tanah dengan tingkat produktivitasnya. Semakin
luas tanah yang dapat dimanfaatkan maka cenderung produktivitasnya
pun akan meningkat pula. Namun seiring dengan pertambahan jumlah
penduduk akan membawa konsekuensi pada luasan bidang tanah yang
cenderung semakin menyempit, sehingga pada akhirnya persaingan untuk
memperoleh bidang tanah semakin ketat dan mengakibatkan nilai tanah
akan meningkat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada hubungan
positif antara kuantitas barang sumber daya (dalam hal ini tanah) dan
pertumbuhan ekonomi (Suparmoko, 2010:8).
3. Inflasi
Pengertian inflasi adalah kecenderungan kenaikan harga secara
umum. Artinya kenaikan satu jenis barang saja tidak termasuk dalam
kategori inflasi (Djohanputro, 2008:147). Menurut Budiono (1989), sesuai
besarannya inflasi dapat digolongkan menjadi :
a. Inflasi ringan, yaitu inflasi yang besarnya di bawah 10%
b. Inflasi sedang, yaitu inflasi yang besarnya antara 10% hingga 30%

