Page 109 - Gerakan-gerakan Agraria Transnasional
P. 109

Petani Membuat Sejarah Sendiri

               perjuangan yang lebih besar untuk mengubah dominasi
               model neoliberal dan akan membawa kesimpulan ini
               kembali ke perdebatan, dan akan menggunakan ide-ide
               untuk menghadapi kebijakan badan  internasional  seperti
               FAO, dan pemerintah (2006, np).
                    Perdebatan juga ada dalam diskusi tentang ide
               menciptakan ruang untuk suatu ontologi alternatif, gerakan
               kedaulatan pangan  tidak hanya menempati perspektif yang
               sangat penting untuk menantang neoliberal kapitalisme (cf.
               Starr 2001, 224), tetapi juga menegaskan ulang letak penting
               pertanian dalam modernitas pasca-kapitalis (Duncan
               1996). Pemusatan ulang pertanian dalam visi politik ini
               kemudian membentuk apa yang disebut sebagai ‘masalah
               agraria mengenai pangan‘(McMichael).

               Masalah Agraria Mengenai Pangan (The Agrarian Ques-
               tion of   Food)
                    Terjadi pergeseran epistemologis dalam hal peru-
               musan masalah agraria mengenai pangan, pergeseran itu
               terutama terjadi pada isu produksi ke reproduksi sosial.
               Dalam permasalahan agraria klasik, transisi politik per-
               tanian dianggap sebagai model suprastruktur, di mana ia
               memunculkan hubungan produksi kapitalis yang mengem-
               bangkan kemungkinan untuk kebangkitan politik kaum
               proletar. Kerangka acuan tersebut dibentuk oleh sebuah
               narasi reproduksi yang diperluas dari kapital (industri),
               yang pada gilirannya menutup arti dari ‘reproduksi sosial’
               dan membatasinya pada reproduksi tenaga buruh yang
               hanya berkaitan dengan upah buruh. Meskipun margi-
               nalisasi tenaga kerja rumah tangga,  yang oleh Polanyi
               dipahami sebagai ontologi kapitalis sebagai hal ‘fiktif’,
               karena pada satu waktu yang sama ia membatasi dan
               menstimulasi ‘ditemukannya masyarakat’  (discovery of
               society)—yang dilembagakan dalam resolusi “gerakan



                                                                   95
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114