Page 168 - Kembali ke Agraria
P. 168

Kembali ke Agraria

                   Program 100 hari pertama pemerintahan SBY yang disusun
               Kabinet Indonesia Bersatu, “peningkatan akses pemilikan atas tanah
               bagi golongan ekonomi lemah” ditempatkan sebagai upaya mengatasi
               “kemiskinan” dan meningkatkan “kesejahteraan” (Koran Tempo, 29
               Oktober 2004).
                   Untuk mewujudkannya, menurut sumber-sumber yang bisa
               dipercaya, pemerintah sedang mempercepat revisi Peraturan
               Pemerintah No. 224/1961 yang dikenal sebagai PP Landreform. Soal-
               nya, apakah reform yang akan dijalankan berangkat dari paradigma
               alternatif dan sungguh akan dijalankan untuk pemenuhan hak-hak
               rakyat banyak?
                   Lorong atau jalur tempuh reform yang dipilih tiap negara berbeda-
               beda. Lorong reformasi agraria yang dikenal adalah: kapitalisme,
               sosialisme, dan populisme. Lorong kapitalisme (pro-modal besar)
               diisi agenda pembaruan yang ramah pasar (market friendly agrarian
               reform). Reformasi semacam ini senantiasa disokong kebijakan yang
               akomodatif terhadap investasi berskala raksasa tanpa batas negara.
               Globalisasi ekonomi kapitalis menjadi orientasi politik agraria yang
               kapitalistik. Komoditisasi tanah dan kekayaan alam sebagai objek
               eksploitasi demi pertumbuhan ekonomi menjadi ajaran utamanya.


               Kita layak khawatir
                   Lorong reforma agraria SBY belumlah terang. Penulis khawatir
               yang akan ditempuh adalah yang semata pro-modal besar, walau
               dengan dalih demi “mengenjot pertumbuhan ekonomi” dan “pemu-
               lihan krisis ekonomi” yang “suka tidak suka butuh investor” bermo-
               dal besar untuk mengelola sumber-sumber agraria kita. Kita layak
               khawatir, karena kapitalisme agraria akan kian menjauhkan rasa
               aman, adil, dan kesejahteraan rakyat yang hidupnya tergantung pada
               tanah dan kekayaan alam. Politik agraria pro-pasar cenderung
               memanjakan kaum berkantong tebal ketimbang memenuhi hak-hak
               dasar rakyat jelata.
                   Ketimpangan tidak saja dianggap wajar, melainkan suatu kenis-


                                                                       149
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173