Page 170 - Kembali ke Agraria
P. 170

Sinar Harapan, 4 Januari 2005








                    Revitalisasi Pertanian dan Pedesaan








                      ENYERTAI pergantian tahun 2004 ke 2005, bangsa ini masih
               Mdilanda keprihatinan. Salah satunya menyangkut kehidupan
               petani, sektor pertanian dan pedesaan. Kita perlu strategi baru guna
               memenuhi hak-hak petani sekaligus memperkuat sektor pertanian
               yang menyangkut hidup mayoritas rakyat di pedesaan. Dalam bahasa
               Susilo Bambang Yudhoyono (2004), bangsa ini butuh “revitalisasi
               pertanian dan pedesaan”.
                   Bukan rahasia jika kehidupan petani kita masih jauh dari mak-
               mur. Kaum tani masih berkubang dalam kemiskinan dengan tingkat
               kesejahteraan kian merosot. Meroketnya biaya produksi yang tak
               diikuti perbaikan pendapatan telah memperburuk kondisi petani.
               Apalagi jika BBM jadi dinaikkan pemerintah awal 2005 ini, beban
               petani pastilah melipat-ganda. Selama ini, ketergantungan petani
               terhadap input luar masih kuat. Revolusi Hijau telah menciptakan
               ketergantungan petani yang “permanen” terhadap bibit, pupuk, pesti-
               sida, teknologi, kredit, sarana dan input produksi yang serba dari
               luar.
                   Hal ini tidak memandirikan juga makin melemahkan posisi
               tawar petani. Pembangunan pertanian Orde Baru malah menyubur-
               kan “proletarisasi” yang mendorong arus urbanisasi serta buruh
               migran. Tak heran jika petani kian sulit berusaha, susah memenuhi
               kebutuhan hidup, tak mampu menyekolahkan anak, tak menjangkau
               biaya kesehatan, sulit mendapat rumah yang layak, dan seterusnya.

                                            151
   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175