Page 231 - Kembali ke Agraria
P. 231

Usep Setiawan

            kepentingan umum di dalamnya tak mengakomodasi kepentingan
            pemilik tanah dan kepentingan rakyat. Karena itu, hukum penggu-
            suran secara paksa, intimidasi, ganti rugi tak adil, dan tak kontan
            adalah haram.


            Pembangkangan
                DPR merekomendasi penundaan dan revisi Perpres No 36/2005
            dalam dua bulan (sejak 7 Juni 2005).
                Rekomendasi lahir karena perpres diskriminatif, berpeluang
            sewenang-wenang, mengabaikan hak asasi, membuka ruang kolusi,
            dan represif. Hingga kini rekomendasi DPR tidak ditunaikan peme-
            rintah. Presiden, menteri, dan gubernur malah ngotot menerapkan
            perpres. Koalisi Rakyat Tolak Perpres 36/2005 telah mengajukan uji
            materi (judicial review) ke Mahkamah Agung (20/9/05).
                Apabila kritik dan masukan ini tak jua digubris penguasa, benih
            delegitimasi terhadap pongahnya kekuasaan telah ditanamkan. Apa-
            kah pemerintah tetap tutup mata dan telinga serta memilih istikamah
            dalam kekeliruannya? Prahara apa yang akan menimpa jika kebijakan
            yang potensi mudaratnya lebih besar dibandingkan maslahatnya
            dipaksakan?
                Jika Perpres No 36/2005 dijalankan, keresahan agraria merebak.
            Pemerintah tak elok bermain api dengan suara rakyat. Delegitimasi
            politik bisa menimpa pemimpin yang dipilih secara demokratis. Dele-
            gitimasi politik dapat mengarah ke pembangkangan sipil. Rakyat
            bisa menolak proyek berkedok kepentingan umum dan tak mau
            menyerahkan tanahnya. Jika pembangkangan sosial masif, kita akan
            menyaksikan merenggangnya kekuasaan dengan rakyat. Kekuasaan
            tak lagi melayani rakyat.


            Cegah keresahan

                Pembangkangan sosial secara esensial akan menghambat
            pembangunan. Presiden Yudhoyono perlu menyadari, konflik akibat
            penggunaan dan penyalahgunaan Perpres No 36/2005 akan melibas

            212
   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236