Page 270 - Kembali ke Agraria
P. 270

Kembali ke Agraria

               kan, penggunaan senjata dan alat kekerasan negera dan premanisme
               yang mengorbankan rakyat.
                   Jika rakyat protes, tuduhan pembangkang, pengacau, anti pem-
               bangunan segera dicapkan. Konflik agraria yang menampilkan
               ketidakadilan agraria ini telah menyembulkan wajah carut marutnya
               kondisi HAM bangsa. Semua itu, merupakan ekspresi politik agraria
               yang otoritarian sebagai benteng dari paradigma dan praktek politik
               agraria kapitalistik yang membuahkan struktur agraria yang kian
               timpang dan represivitas sangat tinggi.
                   Ketimpangan penguasaan dan kekerasan konflik agraria sebagai
               problem pokok agraria di Indonesia merupakan buah perkawinan
               kapitalisme dengan otoritarianisme politik agraria. Ini adalah warisan
               Orba, bahkan residu era feodalisme, kolonialisme dan imperialisme.
               Ketika otoritarianisme bergeser ke demokrasi, perubahan paradigma
               dan praktik agraria perlu mendapat perhatian khusus. Karenanya,
               menuntaskan ketimpangan dan konflik agraria melalui reforma agra-
               ria dapat dikatakan sebagai perjuangan inklusif meluruskan sejarah
               bangsa.
                   Perjuangan memberangus otoritarianisme agraria, menegakkan
               demokrasi dan HAM tak akan bermakna jika reforma agraria diabai-
               kan. Kita butuh demokrasi guna memastikan kekuasaan tertinggi di
               genggaman rakyat. Tetapi kita juga perlu reforma agraria untuk me-
               mastikan tanah dan kekayaan alam lainnya benar-benar dikuasai,
               dikelola dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran
               rakyat.
                   Semua itu hendaknya berujung pada penanganan problem agra-
               ria secara adil dan manusiawi, sehingga seluruh konflik agraria mam-
               pu diatasi secara paten. Reforma agraria akan menjadikan demokrasi
               lebih bermakna keadilan dan kemanusiaan. Rencara pelaksanaan
               reforma agraria—ditegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
               dalam pidato awal tahun 2007 (31/01), hendaknya sekaligus ber-
               makna reposisi militer dari “aktor pemicu konflik” menjadi “penga-
               wal terbitnya keadilan”. Niat luhur ini mesti disertai langkah nyata


                                                                        251
   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275