Page 154 - Pengembangan Kebijakan Agraria: Untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat dan Keberlangsungan Ekologis
P. 154

Krisis Keberlanjutan Sumber Penghidupan Masyarakat dan Keberlanjutan Ekologis di Pulau Kecil

             dihadapkan dengan kenyataan bahwa perusahaan memberlakukan
             syarat tersendiri untuk menyaring siapa yang boleh masuk sebagai
             pegawai/tenaga kerja perusahaan. Dahulu pada tahun 2000-an,
             hampir 50 % penduduk Kanibungan bisa bekerja di perusahaan
             BCS, saat ini mereka masih dibawah kotrol perusahaan kontraktor
             BUMA. Saat PT BUMA sudah berhenti dan digantikan oleh
             PAMA, maka regulasi baru yang berjalan menyebabkan banyak
             tenaga kerja yang dipecat. Hal ini juga didasarkan pada teknis
             ijasah.
                 Berbeda dengan desa Rampa yang berinteraksi deng PT
             SILO, sejak awal pekerja yang diserap tidak sebanyak PT BCS,
             kebutuhan tenaga kerja selebihnya dipasok dari luar Sebuku dan
             Kotabaru, bahkan hingga pulau Jawa. Sehingga pada dasarnya
             masyarkat pulau Sebuku tidak diuntungkan sama sekali. Saat ini,
             yang mendominasi bekerja di PT SILO merupakan pekerja luar
             pulau Sebuku. Tingkat migrasi penduduk yang berasal dari luar
             Pebuku meningkat pesat sejalan dengan berdirinya perusahaan
             SILO dan meningkatnya jumlah produksi bijih besi ini.
                 Hal ini dikuatkan dengan data sensus tahun 1971 sampai
             dengan 2000, perpindahan penduduk (migrasi) seumur hidup
             yang masuk ke Kalimantan Selatan memiliki tren yang terus
                                                        2
             meningkat. Demikian halnya dengan migrasi netto  yang memiliki
             tren peningkatan tiap tahunnya. Data menunjukkan bahwa pada
             periode sebelum tahun 90-an (tahun 71-80an) terjadi kondisi
             dimana jumlah penduduk yang keluar dari Kalimantan Selatan
             lebih besar dibandingkan dengan penduduk yang masuk. Namun
             kemudian sejak tahun 1990, jumlah penduduk yang masuk lebih
             besar dibandingkan yang keluar dari Kalimantan Selatan seiring


             2.  Migrasi Netto = Migrasi Masuk – Migrasi Keluar

                                     — 135 —
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159