Page 161 - Pengembangan Kebijakan Agraria: Untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat dan Keberlangsungan Ekologis
P. 161

Pengembangan Kebijakan Agraria untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat dan Keberlanjutan Ekologis

            7.  Pulau Sebuku di Masa Depan

            Kebijakan yang mengatur tentang pemanfaatan sumber-sumber
            agraria di Indonesia cenderung bersifat sektoral dan parsial. Hal
            ini akhirnya menjadi kelemahan untuk pemanfaatan yang tidak
            melihat fungsi ekologis sesuai dengan peruntukannya. Dalam
            PP 14 tahun 2006 tentang pinjam pakai hutan pasal 5 ayat 2
            dinyebutkan bahwa penggunaan kawasan hutan dengan tujuan
            strategis adalah untuk 1) kepentingan religi; 2) pertahanan dan
            keamanan; 3) pertambangan; 4) pembangunan ketenagalistrikan
            dan instalasi teknologi energi terbarukan; 5) pembangunan jaringan
            telekomunikasi; dan 6) pembangunan jaringan instalasi air. Tetapi
            PP ini tidak menjelaskan aturan pinjam pakai secara spesifik untuk
            pulau kecil yang secara ekologis rentan.
                Jika disinkronkan dengan UU no 27 tahun 2007 tentang
            pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, penambangan tidak
            dianjurkan dilakukan di pulau-pulau kecil. Tetapi jika aktivitas
            penambangan tersebut berada dikawasan hutan maka yang
            berlaku adalah kebijakan kehutanan walaupun berada di pulau
            kecil. Seharusnya kebijakan ini perlu diintegrasikan sehingga tidak
            mengurangi daya dukung dan keberlanjutan pulau kecil.
                Meski pada pasal 38 ayat 4 UU. No. 41/1999 disebutkan
            bahwa di kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan
            dengan pola pertambangan terbuka, tetapi disisi lain terdapat
            peluang membuka pertambangan di kawasan hutan lindung
            setelah mengubah status peruntukan dan fungsinya. Hal
            demikian dijelaskan dalam pasal 19 ayat UU No. 41/1999 ayat
            (1) perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan
            oleh pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu,
            ayat (2) Perubahan peruntukan kawasan hutan sebagaimana


                                    — 142 —
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166