Page 219 - Jalan Penyelesaian Persoalan Agraria: Tanah Bekas Hak, Pengakuan Hukum Adat, Penataan Tanah Batam, Percepatan Pendaftaran Tanah, dan Integrasi Tata Ruang
P. 219

202    Sri Kistiyah, Rochmat Martanto, A.H. Farid

               j.  Memperhatikan keragaman budaya.
                   Akan tetapi pula dalam penyusunan perencanaan Tata Ruang
               wilayah  telah  mengesampingkan  unsur-unsur  pertanahan,  baik
               ditinjau  dari  sisi  penggunaan,  pemanfaatan,  penguasaan  dan
               pemilikan tanah. Hal ini dapat dilihat dalam penyusunan peren-
               canaan Tata Ruang Wilayah yang tidak pernah memperhatikan
               pertimbangan-pertimbangan  tentang  bagaimana  penggunaan
               tanah  dan  pemanfaatan  tanah  yang  ada  serta,  pemilikan  dan
               penguasaan tanah  tanah baik oleh masyarakat, Badan Hukum,
               Instansi Pemerintah tidak menjadi pertimbangan dalam penyu-
               sunan  perencanaan  tersebut.  Padahal  dengan  mengabaikan
               masalah  penggunaan  tanah,  Pemanfaatan  Tanah,  Penguasaan
               Tanah  dan  Pemilikan  Tanah  sehingga  menimbulkan  berbagai
               kontra produktif bagi pembangunan itu sendiri.
            2.  Dampak yang  timbul akibat penyelewengan perijinan tata ruang
               antara lain kerusakan lingkungan dan ekologi, alih fungsi lahan
               yang tidak sesuai dengan existing penggunaan tanah, konflik dan
               sengketa  pertanahan,  konflik  sosial  akibat  konflik  penguasaan
               tanah  hingga  penguasaan  pemilikan  tanah  secara  ilegal.Hal  ini
               dapat dilihat dari kawasan wilayah lokasi penelitian dengan berdi-
               rinya  bangunan-bangunan  seperti  hotel,  mall,  komplek  peru-
               mahan  dan  pabrik-pabrik  yang  berdiri  tidak  tertatadi  tengah-
               tengah pemukiman warga/penduduk.
            3.  Setelah dilakukan konfirmasi dengan Kepala Kantor Pertanahan
               Jakarta Barat, ternyata dalam penyusunan perencanaan tata ruang
               , Kantor Pertanahan tidak terlibat sama sekali sesuai dengan tugas
               pokok dan fungsi yang dituangkan dalam regulasi Peraturan Pre-
               siden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kemen-
               terian Agraria dan Tata Ruang dan Peraturan Menteri Agraria dan
               Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun
               2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria dan
               Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
            4.  Badan  Pertanahan  Nasional  di  tingkat  daerah  hingga  saat  ini
               dalam melaksanakan ketugasannya masih mengacu pada kewe-
               nangan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional/Peraturan
               Menteri  Agraria Nomor  3  Tahun  2006  tentang  Organisasi  dan
   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224