Page 309 - Politik Kelembagaan Agraria Indonesia: Jalan Terjal Pembentukan Kelembagaan dan Kebijakan Agraria, 1955-2022
P. 309

Politik Kelembagaan Agraria Indonesia

                          mandat politik agraria nasional. Beberapa usulan sempat
                          mengemuka,  di antaranya  menghendaki agar  Kemen-
                          terian Kehutanan digabung dengan Kementerian Agraria.
                          Dasar usulan ini karena melihat persoalan dan penye-
                          lesaian tanah ada di dua lembaga tersebut, sehingga jika
                          digabung akan jauh lebih mudah pengelolaanya. Sejauh
                          pengetahuan penulis, persoalan agraria dan kehutanan
                          selalu menjadi isu krusial di dalam tata kelola agraria dan
                          hutan di Indonesia (Kartodihardjo, 2006, 2008).
                              Wacana dan pertarungan politik kelembagaan me-
                          mang ramai dikalangan akademisi, sementara di kalangan
                          praktisi maupun birokrasi agraria nyaris sepi dari perde-
                          batan. Perbincangan kelembagaan tidak menjadi wacana
                          utama bagi keduanya karena sebagaimana dikatakan oleh
                          petinggi BPN waktu itu, “biarkan pihak luar yang membi-
                          carakan kelembagaan agraria, kami tidak perlu merespon

                          karena takut dituduh sebagai conflict of interest”. Pernya-
                          taan ini satu sisi sebagai sebuah kepasrahan sekaligus pesi-
                          mistis  akan amsa depan tata kelola agraria  Indonesia
                          dalam menghadapi masa depan atau sebentuk menerima
                          apa kehendak negara yang diwakili oleh elite politik pem-
                          bentuk kebijakannya. Sebenarnya, sejak BPN dipimpin
                          Hendarman Supandji, isu peningkatan kelembagaan BPN
                          sering muncul ke publik, bahkan Hendarman  Supandji
                          sendiri beberapa kali “berkeluh kesah” tentang posisi BPN
                          pada tataran kelembagaan nasional yang menurutnya di-
                          anggap tidak pas, karena tupoksinya yang besar namun
                          kelembagaannya dianggap kecil. Supandji juga  pernah
                          menyatakan niatnya agar BPN ditingkatkan kelembaga-

                                                                             273
   304   305   306   307   308   309   310   311   312   313   314