Page 9 - E-Modul Kelas 4 SD Tema 8
P. 9

E-modul: Tema 8 "Daerah Tempat Tinggalku"











                           AYO MEMBACA





                                                                                     Asal Mula Burung Ruai




                              Alkisah,  di  sebelah  timur  Sekura,  Kabupaten  Sambas  terdapat  sebuah  kerajaan  milik


                      orang-orang suku Dayak. Kerajaan itu berada di dekat Gunung Bawang dan Gunung Ruai.


                      Raja  pemimpin  kerajaan  itu  memiliki  tujuh  orang  putri.  Namun  sayang,  ibu  dari  anak-

                      anaknya itu meninggal dunia saat Si Bungsu masih kecil. Di antara ketujuh putri raja, anak


                      yang paling bungsu adalah yang tercantik. Selain rupawan, Si Bungsu memiliki budi pekerti


                      yang luhur, rajin, suka menolong, dan taat kepada orang tua. Lain halnya dengan keenam

                      kakaknya, perilaku mereka amat buruk. Mereka memiliki sifat angkuh, pemalas, dan suka


                      membantah. Tidak mengherankan jika sang ayah lebih sayang dan memanjakan Si Bungsu.


                           Rupanya perlakuan Ayah terhadap Si Bungsu membuat keenam kakaknya menjadi iri

                      hati  dan  benci  kepada  adiknya.  Setiap  kali  Ayah  tidak  berada  di  istana,  mereka


                      melampiaskan  kebenciannya  kepada  Si  Bungsu  dengan  memerintahnya  sesuka  hati.

                      Bahkan, mereka tak segan memukulnya. Si Bungsu menjadi takut kepada kakak-kakaknya


                      dan terpaksa menuruti semua perintah yang diberikan kepadanya.


                            Suatu pagi terdengar suara ketukan pintu di kamar Si Bungsu. “Permisi, Tuan Putri!” seru


                      Dayang.  Putri  Bungsu  segera  membuka  pintu.  “Maaf,  Putri.  Hamba  datang  mendapat

                      perintah  dari  Baginda  Raja  agar  semua  putri  berkumpul  di  pendapa  istana.  Ada  sesuatu


                      yang  ingin  Baginda  sampaikan”,  kata  Si  Dayang.  “Baiklah,  kalau  begitu.  Tolong  sampaikan

                      kepada  Raja  bahwa  kami  akan  segera  kesana”,  jawab  SI  Bungsu.  “Ada  apa  Baginda


                      memanggil kami?” tanya Putri Sulung. “Dengarlah wahai putri-putriku. Ayah akan berkunjung


                      ke  kerajaan  tetangga  selama  satu  bulan  karena  ada  urusan  penting.  Selama  aku  disana,


                      kekuasaan  kerajaan  ini  akan  kuserahkan  kepada  Putri  Bungsu”,  jelas  Sang  Ayah.  “Semua

                      perintah  dan  keputusan  berada  di  tangan  Putri  Bungsu.  Kalian  harus  patuh  terhadap


                      perintahnya.”

                                  Keenam  kakanya  justru  semakin  membencinya,  hingga  pada  suatu  pagi  mereka


                      berencana mencelakai Si Bungsu. Mereka mengajak mencari ikan di Goa Batu. Didalam goa


                      itu terdapat aliran sungai yang banyak ikannya. Keenam kakaknya meninggalkannya disana

                      sendirian.


                           Setelah tujuh hari di dalam goa, terdengar suara gemuruh yang menggelegar, hingga


                      bebatuan  runtuh.  Si  Bungsu  pun  menjerit-jerit  ketakutan.  Beberapa  saat  kemudian

                      datangkah seorang yang tua dihadapannya.


                      “Sedang apa kau disini, Cucuku?” tanya kakek itu. Si Bungsu menceritakan semua peristiwa


                      yang  dialaminya  sambil  menangis  sedih.  Sang  Kakek  merasa  iba,  hingga  dengan

                      kesaktiannya Ia mengubah tetesan air mata Si Bungsu menjadi telur. Setelah itu perlahan


                      tangannya ditumbuhi bulu dan menjadi sayap burung.


                      “Apa  yang  terjadi  dengan  tanganku,  Kek?”  tanya  Si  Bungsu  dengan  heran.“Tenanglah,

                      Cucuku.  Kakek  akan  menolongmu  dari  sesengsaraan  ini.  Kamu  akan  ku  ubah  menjadi


                      seekor burung. Setelah itu eramilah telur-telur itu hingga menetas menjadi burung-burung


                      yang nanti akan menjadi temanmu”, ujar Kakek.

                             Setelah berdoa, seluruh tubuh Si Bungsu menjadi burung yang indah. “Cucuku, kini


                      kamu telah menjadi burung. Kamu kuberi nama Burung Ruai. “Kwok, kwok!” jawab Si Bungsu


                      dengan  suara  burung.  Seketika  kakek  itu  pun  menghilang.  Burung  Ruai  jelmaan  Putri

                      Bungsu  mengerami  telurnya  selama  25  hari.  Setelah  dewasa,  mereka  keluar  goa  dan


                      bertengger di atas pohon dekat istana. Disana Si Bungsu dapat melihat keenam kakaknya


                      dihukum karena telah mencelakai dirinya.



                                                                             http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/245-Asal-Mula-Burung-Ruai#











                                                                                                           3
   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14