Page 40 - Evam Bhavatu
P. 40

“Me-mengapa  kamu  melakukan  i-itu?  Grace...  Bu-bukan  ini.




                 Bukan  ini  yang  aku  harapkan  dari  hubungan  kita.  Grace...  Da-



                 dan a-anak kita” tangis Quirino di pangkuanku









                 Suara tangisan Quirino semakin lama semakin kencang dan dia




                 pun                    merasa                             amarahnya                                      sangat                          tinggi                        hingga                           ia



                 melampiaskannya ke arah tembok




                 Quirino pun pergi dari kamar dan aku berada di kamar dengan



                 tangisan dan air mata yang menemani









                 Hari  demi  hari  berlalu.  Bulan  demi  bulan  berlalu.  Sudah




                 terhitung  5  bulan  berlalu  dari  situasi  mengenaskan  itu  Dokter




                 mengatakan  bahwa  aku  seharusnya  sudah  bisa  bicara.  Tetapi



                 sampai sekarang aku tidak bisa berbicara.









                 Kata dokter dipengaruhi oleh keinginanku juga. Dan memang…




                 Aku  tidak  merasa  perlu  bicara.  Aku  merasa  tidak  perlu



                 mendengar,  berkata  dan  segalanya.  Karena  aku  hanya  merasa




                 dunia ku gelap sekarang. Aku tidak pernah merasa bahagia









                 Dan  karena  nafsu  duniawi  ku  seperti  menghilang  begitu  saja.



                 Setiap harinya, aku hanya di perpustakaan dan menatap langit




                 yang berubah warna setiap saatnya. Aku masih tetap berada di



                 kursi roda.




                 Quirino  selalu  menangis  dipangkuan  ku  dan  selalu  berkata




                 seperti halnya saat ini








                 “Grace… Aku mohon. Ber-berbicaralah. Aku mohon.. A-aku minta




                 ma-maaf  atas  segala  yang  te-telah  aku  lakukan.  Aku  mohon




                 berbicaralah.  Jangan  seperti  ini.  A-aku  mohon”  ucapnya



                 menangis yang sudah menjadi rutinitas baginya














                                                                                                                                                           Evam Bhavatu                                            36
   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45