Page 39 - Cerita Rakyat Nusantara 2
P. 39

Suatu hari, datanglah dua orang utusan dari istana Sang Sambaratih
                     membawa makanan untuk si Nenek. Sebelum kembali ke istana, kedua utusan
                     tersebut memberitahukan kepadanya bahwa raja akan mengadakan
                     sayembara memetik bunga melati. Barangsiapa yang dapat melompat dari
                     halaman rumah istana sampai ke atap istana untuk mengambil bunga melati,
                     dan menyerahkannya kepada putri raja, maka dia akan dijadikan menantu
                     raja. Akan tetapi jika gagal, maka dia akan mendapat hukuman gantung.

                     Si Ambun yang mendengar kabar itu, hampir semalaman tidak dapat
                     memejamkam matanya. Ia ingin sekali mengikuti sayembara itu. Keesokan
                     harinya, Ambun menemui si Nenek.

                     “Nek, bolehkah Ambun mengikuti sayembara itu?” tanya Ambun.

                     “Oh jangan, Cucuku! Kamu akan dihukum gantung jika gagal memetik bunga
                     melati itu,” cegah si Nenek.

                     “Nenek tidak usah khawatir. Ambun pasti dapat mengatasinya,” kata si
                     Ambun seraya memperlihatkan senjata dohongnya.

                     “Benda apa ini, Cucuku?” tanya si Nenek penasaran.

                     “Senjata pusaka peninggalan ayahku, Nek. Senjata ini dapat menolong jika
                     diperlukan,” jelas Ambun.

                     Si Nenek pun yakin dan percaya dengan kata-kata Ambun, dan
                     mengizinkannya untuk mengikuti sayembara tersebut. Keesokan harinya,
                     Ambun sudah bersiap-siap berangkat menuju istana untuk mengikuti
                     sayembara tersebut.

                     “Maaf, Nek! Ambun ada satu permintaan,” kata Ambun.

                     “Apakah itu, Cucuku?” tanya si Nenek penasaran.

                     “Bersediakah Nenek menyaksikan sayembara itu. Jika seandainya Ambun
                     gagal, Nenek dapat menyaksikan Ambun menjalani hukuman gantung, dan
                     saat itu adalah pertemuan terkahir kita,” bujuk Ambun.

                     Oleh karena sayang kepada Ambun, nenek itu pun memenuhi keinginan
                     Ambun. Maka berangkatlah mereka berdua menuju istana. Selama dalam
                     perjalanan, si Nenek senantiasa diselimuti perasaan cemas. Sementara si
                     Ambun meminta kepada si Nenek untuk mendoakannya agar dapat meraih
                     kemenangan.





                                                              38
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44