Page 44 - Cerita Rakyat Nusantara 2
P. 44

Usai mengucapkan syukur, sang Suami mendekati istrinya dan mengusap-
                     usap perut sang Istri.

                     “Istriku! Tidak lama lagi kita akan memiliki anak. Jagalah baik-baik bayi yang
                     ada di dalam perutmu ini!” ujar sang Suami.

                     Waktu terus berjalan. Usia kandungan sang Istri genap sembilan bulan, pada
                     suatu malam sang Istri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian
                     diberi nama Kumbang Banaung. Alangkah senang dan bahagianya sepasang
                     suami-istri itu, karena anak yang selama ini mereka idam-idamkan telah
                     mereka dapatkan. Mereka pun merawat dan membesarkan Kumbang Banaung
                     dengan penuh kasih sayang.

                     Ketika Kumbang Banaung berusia remaja dan sudah mengenal baik dan buruk,
                     mereka memberinya petuah atau nasehat agar ia menjadi anak yang berbakti
                     kepada orangtua dan selalu berlaku santun serta bertutur sopan ke mana pun
                     pergi.

                     wahai anak dengarlah petuah,
                     kini dirimu lah besar panjang
                     umpama burung lah dapat terbang
                     umpama kayu sudah berbatang
                     umpama ulat lah mengenal daun
                     umpama serai sudah berumpun

                     banyak amat belum kau dapat
                     banyak penganyar belum kau dengar
                     banyak petunjuk belum kau sauk
                     banyak kaji belum terisi

                     maka sebelum engkau melangkah
                     terimalah petuah dengan amanah
                     supaya tidak tersalah langkah
                     supaya tidak terlanjur lidah

                     pakai olehmu adat merantau
                     di mana bumi dipijak,
                     di sana langit dijunjung
                     di mana air disauk

                     di sana ranting dipatah
                     di mana badan berlabuh,





                                                              43
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48