Page 31 - Modul Word
P. 31

Tidak  ada  pilihan  lain,  Mbok  Sarni  menerima  syarat  tersebut.  Raksasa  itu
                        memberinya segenggam biji mentimun untuk ditanam.

                        Mbok  sarni  pun  mengikuti  saran  si  Raksasa  untuk  menanam  biji  mentimun  yang
                        didapatkanya. Biji itu tumbuh dan berbuah dalam waktu singkat, dalam beberapa
                        hari  saja  pohon  mentium  tumbuh  dengan  buahnya  yang  sangat  besar siap  untuk
                        dipanen.  Betapa  terkejutnya  Mbok  Sarni  ketika  sedang  memetik  salah  satu
                        mentimun, di hadapannya terdapat bayi perempuan yang cantik. Bayi itu dinamai
                        Timun Mas, karena ia lahir dari mentimun yang berwarna keemasan.
                        Hari ini Timun Mas genap berusia 6 tahun. Mbok Sarni ingin memasak nasi kuning
                        sebagai ucapan syukur. Ketika ia sedang sibuk di dapur, Bumi bergetar. Buumm...
                        bumm... buumm... seperti langkah kaki raksasa. "Gawat, raksasa itu sudah datang.
                        Untung Timun Mas sedang pergi. Aku harus mencari akal untuk mengusir raksasa
                        itu," kata Mbok Sarni dalam hati
                        "Hai, Ibu Tua... keluarlah! Mana anakmu?" teriak raksasa itu.
                        Mbok Sarni cepat keluar menghampiri si Raksasa, "Sabar, aku akan menyerahkannya
                        padamu, tapi
                        apakah kau mau? Tubuhnya masih kecil dan kurus, aku rasa ia belum cukup lezat
                        untuk kau makan,"
                        "Hah? Berarti kau tidak menjaganya dengan balk! Mana anak itu?" teriak  raksasa
                        lagi.
                        "Ia sedang pergi. Percayalah padaku, kembalilah dua tahun lagi, aku jamin ia sudah
                        gemuk," jawab Mbok Sarni. Raksasa itu percaya pada perkataan Mbok Sarni. "Dua
                        tahun bukanlah waktu yang lama," pikirnya.
                        Sepeninggal raksasa, Mbok Sarni mencari akal untuk menyelamatkan Timun Mas. Ia
                        juga berdoa supaya Tuhan memberinya jalan keluar. Suatu malam, Tuhan menjawab
                        doanya. Mbok Sarni bermimpi bertemu dengan seorang pertapa di gunung. Pertapa
                        itu menguruh Timun Mas untuk menemuinya. Ia akan menolong Timun Mas. Saat
                        Mbok Sarni terbangun, ia merasa tak ada salahnya untuk mencari pertapa itu. Ia lalu
                        menceritakan semuanya pada Timun Mas, termasuk perjanjiannya dengan raksasa.
                        Timun Mas memang anak pemberani, ia tak takut ketika tahu bahwa raksasa akan
                        menyantapnya. Timun Mas bertekad untuk menemui pertapa di gunung. Sebelum
                        berangkat, ia memohon restu pada ibunya.
                        Setelah  berhari-hari  mendaki,  Timun  Mas  akhirnya  mencapai  puncak  gunung.  Ia
                        melihat  seorang  lelaki  tua  berambut  putih  dan  berjubah  putih.  "Permisi,  Kek.
                        Namaku Timun Mas. Ibuku bilang, Kakek akan membantuku melawan raksasa jahat
                        yang hendak menyantapku," sapa Timun Mas.
                        "Oh,  kau  yang  bernama  Timun  Mas?  Ya,  aku  memang  mendatangi  ibumu  lewat
                        mimpi.  Cucuku,  jika  raksasa  itu  kembali,  berlarilah  dengan  kencang,"  pesan  si
                        pertapa itu.
                        "Langkah kakinya lebar, aku pasti mudah tertangkap," kata Timun Mas heran.

                        "Ambillah  empat  buah  bungkusan  kecil  ini.  Lemparkan  satu  persatu  ketika  kau
                        melarikan diri," jawab pertapa itu dengan tegas.
                        Timun Mas paham. Ia lalu pamit pulang.




                                                                   Applikasi Pengolah Kata untuk Pemula   28
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36