Page 32 - Modul Word
P. 32
Dua tahun berlalu. Saatnya raksasa kembali untuk mengambil Timun Mas. Benar
saja, tiba-tiba terdengar langkah kaki dan teriakan menggelegar, "Mbok Sarni! Mana
anakmu? Aku sudah lapar!" teriaknya.
"Kumohon, jangan makan dia," pinta Mbok Sarni.
"Enak saja. Kau sudah berjanji, kau tak boleh mengingkarinya!" jawab raksasa.
Dengan terpaksa, Mbok Sarni membawa Timun Mas menemui raksasa itu.
Timun Mas berbisik padanya, "Jangan khawatir, Bu."
"Hahaha... wah... ibumu benar-benar merawatmu dengan baik. Badanmu cukup
berisi, pasti dagingmu nikmat sekali."
Timun Mas menjawab, "Dasar raksasa rakus, makanlah aku jika bisa!"
Setelah berkata demikian, Timun Mas lari sekencang-kencangnga. Dengan marah,
raksasa itu segera mengejarnya. Timun Mas terus berlari dan berlari. Namun, ia
mendengar Iangkah kaki raksasa itu semakin mendekat.
Timun Mas segera membuka bungkusan pemberian kakek pertapa itu. Bungkusan
pertama, ternyata berisi biji mentimun. Ia melemparkannya ke arah raksasa.
Keajaiban pun terjadi. Biji mentimun itu berubah menjadi ladang timun yang
buahnya sangat banyak. Langkah raksasa tertahan oleh ladang timun itu. Dengan
susah payah ia harus melewati rintangan dan batang-batang pohon yang meliliti
tubuhnya. Namun, ia berhasil meloloskan diri. Ia bertambah marah.
Timun Mas menoleh ke belakang, "Gawat, ia berhasil lolos. Aku harus segera
membuka bungkusan kedua," pikirnya. Bungkusan kedua itu berisi jarum. Timun
Mas melemparkan jarum- jarum itu. Apa yang terjadi? Jarum-jarum itu berubah
menjadi pohon-pohon bambu yang tinggi dan berdaun lebat. Raksasa harus bekerja
keras menerobos pohon-pohon bambu itu. Badannya terluka karena tergores
batang-batang bambu. Meskipun tubuhnya berdarah, ia pantang menyerah. Justru
larinya semakin kencang setelah berhasil melewati hutan bambu yang dibuat Timun
Mas. Ia kesal karena dipermainkan oleh Timun Mas.
Timun Mas membuka bungkusan ketiga. Sambil terus berlari, ia me lemparkan isi
bungkusan itu, yaitu garam. Lagi-lagi keajaiban terjadi. Ga ram itu berubah menjadi
lautan yang luas. Namun, lautan itu tak menjadi penghalang bagi raksasa. Ia
berenang melintasi lautan itu, dan berhasil mencapai tepi. Raksasa mulai kelelahan,
tapi mengingat lezatnya daging Timun Mas, ia kembali bersemangat berlari.
Timun Mas ketakutan melihat kekuatan raksasa itu. Bungkusan ter akhir adalah
harapan satu-satunya. Sambil berdoa, Timun Mas membuka bungkusan keempat.
Isinya terasi. Sekuat tenaga, Timun Mas melemparkan terasi itu ke arah raksasa. Apa
yang terjadi? Terasi itu berubah menjadi lautan lumpur yang panas mendidih.
Raksasa yang berlari kencang tak dapat menghentikan langkahnya. Ia pun
terperosok ke dalam lumpur. Ia berteriak dan meronta. Namun semakin ia meronta,
semakin dalam lumpur itu mengisap tubuhnya. Ia akhirnya tenggelam ke dalam
lumpur panas.
Timun Mas menghentikan langkahnya. Ia lega karena berhasil menyelamatkan diri.
Dengan kelelahan ia berjalan pulang ke rumahnya.
Mbok Sarni, yang terus menangis sepeninggal Timun Mas, sangat bahagia melihat
kepulangan putrinya. Mereka berpelukan dan mengucap syukur pada Tuhan atas
pertolonganNya. Sejak saat itu, Mbok Sarni hidup bahagia bersama Timun Mas.
Applikasi Pengolah Kata untuk Pemula 29

