Page 11 - BioMagz Pendekatan ISS Materi Perubahan Lingkungan
P. 11
PENOLAKAN
D
WARGA imulai pada 27 Maret 2018, warga Wadas melakukan aksi penolakan
TERHADAP rencana penambangan di wilayahnya dengan berdemo di depan Balai Besar
PENAMBANGAN Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO). Alasan warga menolak dilakukannya
penambangan karena akan nerdampak pada aspek lingkungannya atau
ANDESIT ekologinya yaitu khawatir akan merusak 28 titik sumber mata air desa. Selain itu
juga warga khawatir wilayahnya akan semakin rawan longsor, berdasarkan
Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Purworejo
2011 - 2031, Kecamatan Bener, termasuk di dalamnya Desa Wadas, merupakan
bagian dari kawasan rawan bencana tanah longsor. Tidak semua warga Wadas
menolak proyek penambangan ini.
Dalam laporan yang dirilis oleh Gerakan Masyarakat Peduli Alam
Desa Wadas (GEMPA DEWA) menyatakan bahwa potensi yang dimiliki desa
Source: ramadhan.republika.com Wadas ini yaitu tanaman budidya yang ditanam oleh warga Wadas bernilai
sangat mahal, seperti petai yang mencapai Rp 241 juta per tahun, kayu sengon
yang mencapai Rp 2 miliar per tahun, kemukus yang mencapai Rp 1,35 miliar
per tahun, vanili yang mencapai Rp 266 juta per tahun, dan durian yang bisa
mencapai Rp 1,24 miliar per tahun. Selain itu, disebutkan juga desa Wadas
memiliki keragaman fauna, khususnya burung yang tinggi dan bisa terancam
ekosistemnya jika terjadi penambangan. Jenis-jenis burung yang ada di wilayah
Source: vo.id Wadas, antara lain kleci, kutilang, walet sapi, cekak gunung, madu kelapa,
tekukur, pipit, bondol haji, trocokan, blekok sawah, prenjak jawa, prenjak sisi
merah, dan elang. Dengan segala potensi yang terdapat di wilayah Wadas,
banyak warga Wadas yang menolak penambangan di wilayah mereka karena
kehidupan mereka sangat bergantung dengan lahan yang sedang mereka
tempati saat ini. Oleh karena itu, warga Wadas terus berjuang untuk
mempertahankan ruang hidupnya.
Beberapa warga Wadas menyampaikan dukungannya terhadap proyek
Source: suara.com penambangan ini, karena akan menguntungkan warga pada aspek ekonomi.
Rodiah selaku warga Wadas mengungkapkan harapan supaya desanya dapat
menjadi kawasan pariwisata pasca penambangan batu andesit sehingga dapat
meningkatkan perekonomian warga desa. Rencana penambangan ini akan
mencakup 145 hektar lahan Wadas. "Kami berharap embung yang tercipta dari
lokasi penambangan akan menjadi kawasan pariwisata sehingga kami bisa
berjualan di situ hingga mendapatkan pemasukan keluarga, kalau 145 hektar
dijadikan lokasi wisata itu akan sangat luas dan menguntungkan warga untuk
Source: suara.com berjualan hasil kebun seperti kelapa muda, ubi, durian, cemilan dan nasi", kata
Rodiah. Warga Wadas lainnya seperti Emilia Putri (19 tahun) lulusan SMK ini
mengaku sulit mencari pekerjaan. Oleh karena itu, ia berharap desanya menjadi
kawasan wisata skala besar agar lebih mudah berwirausaha dengan menjual
kerajinan.
Konflik di antara kedua pihak membesar pada April 2021 dan Februari
2022, karena laporan masyarakat bahwa beberapa warga mengalami tindak
Source: nasional.kompas.com kekerasan yang dilakukan oleh tentara dan polisi. Berdasarkan peristiwa
tersebut. banyak warga yang ditahan dikepolisian. Oleh karena konflik tersebut, 10
Ganjar Pranowo meminta maaf dan meminta agar warga yang ditahan segera
dibebaskan. Sampai saat ini, belum ada titik terang mengenai konflik tersebut,
pemerintah tetap ingin melanjutkan proyek tersebut dan sebagian warga
bersikeras menolak. Untuk meredam konflik, pemerintah memutuskan agar
proyek penambangan diberhentikan sementara.
Catatan: BIOLOGY MAGAZINE
Source: tribunnews.com
Untuk informasi atau materi lebih lanjut dan lebih lengkap dapat diakses pada link di bawah ini:
Konflik Harta Karun Wadas

