Page 45 - 22538273AL-QURANHADIS_MTs_KELAS_VIII_KSKK_2020_CompressPdf
P. 45

Asbabun Nuzul QS. Al-An’am (6)


                            Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Imam Tabrani, dari Ibrahim ibnu Nailah,
                                                Kandungan QS. Al-An’am: 152
                     dari Ismail ibnu Umar, dari Yusuf ibnu Atiyyah, dari Ibnu Aun, dari Nafi', dari Ibnu

                     Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Surat Al-An 'am diturunkan
                                                Kandungan QS. Al-An’am: 152
                     kepadaku sekaligus, dan diiringi oleh tujuh puluh ribu malaikat, dari mereka terdengar
                     suara gemuruh karena bacaan tasbih dan tahmid”.

                                                Kandungan QS. Al-An’am: 152
                                              Kandungan QS. Al-An’am (6): 152


                            Ayat  di  atas  diawali  dengan  larangan  mendekati  harta  anak  yatim,  seperti
                                               Kandungan QS. Al-An’am: 152
                     mengambil hartanya dengan alasan  yang dibuat-buat, kecuali dengan cara yang lebih

                     bermanfaat dan lebih menguntungkan, seperti menginvestasikannya agar berkembang,
                                               Kandungan QS. Al-An’am: 152
                     atau menjaga agar keutuhannya terjamin, termasuk juga membayar zakatnya jika telah

                     mencapai satu nisab, sampai dia mencapai usia dewasa; mampu mengelola hartanya.
                           Ayat  ini  memerintahkan  kepada  kita  untuk  menyempurnakan  takaran  dan
                                               Kandungan QS. Al-An’am: 152
                     timbangan  secara  adil.  Tidak  boleh  merekayasa  untuk  mengurangi  takaran  atau
                     timbangan dalam bentuk apa pun. Namun demikian, karena untuk tepat 100 % dalam

                     menimbang  adalah  sesuatu  yang  sulit,  maka  dibuat  kesepakatan  antara  penjual  dan

                     pembeli, berupa kerelaan agar jangan sampai menyulitkan keduanya.
                           Penjual tidak diharuskan untuk menambahkan barang yang dijual, melebihi dari

                     kewajibannya, pembeli juga merelakan jika ada sedikit kekurangan dalam timbangan
                     karena  tidak  sengaja.  Ayat  ini  menunjukkan  bahwa  agama  Islam  tidak  ingin

                     memberatkan pemeluknya.
                           Penjelasan berikutnya adalah perintah untuk berbicara dengan jujur, seperti pada

                     saat  bersaksi  atau  memutuskan  hukum  terhadap  seseorang.  Sebab,  kejujuran  dan

                     keadilan  adalah  inti  persoalan  hukum.  Kejujuran  dan  keadilan  harus  tetap  dapat
                     ditegakkan  sekalipun  yang  akan  menerima  akibat  dari  hukuman  tersebut  adalah

                     kerabatnya sendiri. Keadilan hukum dan kebenaran  di atas segalanya, jangan sampai

                     keadilan  hukum  terpengaruh  oleh  rasa  kasih  sayang  terhadap  keluarga.  Semua  itu
                     bertujuan agar masyarakat bisa hidup damai, tenang, dan tenteram.

                           Ayat  ini  diakhiri  dengan  perintah  untuk  memenuhi  janji  kepada  Allah,  yaitu
                     mematuhi ketentuan yang digariskan oleh-Nya, baik dalam ibadah, muamalah, maupun

                     lainnya. Memenuhi janji ini akan mendatangkan kebaikan bagi manusia, yaitu  agar kita




                                                                        AL-QUR’AN HADIS KELAS IX    31
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50