Page 5 - E BOOK_M.PAJAK(OPTIMALISASI PEMBAYARAN PAJAK UNTUK MENGHEMAT PAJAK)_KEL6_AK.C 2020
P. 5

yang  dibayarkan  kepada  karyawan  dan  penghasilan  lain  yang  dibayarkan  kepada  pihak

               perorangan lainnya yang menjadi objek PPh Pasal 21, apakah jumlahnya telah sama.

               c. Rekonsiliasi/ekualisasi SPT PPh Badan dengan SPT PPh Pasal 23

               Rekonsiliasi  SPT  PPh  Badan  dengan  SPT  PPh  Pasal  23  berkaitan  dengan  prosedur
               pengecekan yang dilakukan oleh KPP terhadap jumlah biaya sewa, bunga, dividen, royalti,

               dan jasa lainnya  yang harus dipotong PPh Pasal  23 pada SPT PPh Badan dengan jumlah
               Dasar  Pengenaan  Pajak  SPT  PPh  Pasal  23,  apakah  jumlahnya  telah  sama.  Jika  terdapat

               material  yang  bukan  objek  PPh  Pasal  23,  perlu dilakukan  pemisahan  antara  nilai  jasa  dan

               materialnya.

               8. Kebijakan Perpajakan Lainnya untuk Penghematan PPh atas Transaksi Tertentu

               Perlakuan perpajakan PPh badan yang berkaitan dengan transaksi tertentu:

               1.Penilaian Kembali (Revaluasi) Aktiva Tetap


               Revaluasi akriva tetap di  tahun 2008 mengalami perubahan  yang sangat berarti.  Peraturan
               perpajakan terbaru itu diatur dalam Peraturan Menkeu No.79/PMK.03/2008 tanggal 23 Mei

               2008, yang mencabut Keputusan Menkeu No. 486/KMK.03/2002 tanggal 28 November 2002

               jo. KEP-519/ PJ./2002 jo. SE-03/PJ.31/2002. Dalam ketentuan tersebut antara lain diatur:

                   1)  Wajib  pajak  badan  dalam  negeri  dan  BUT  (tidak  termasuk  perusahaan  yang

                       memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang
                       dolar AS) dapat melakukan penilaian kernbali aktiva tetap perusahaan yang berada di

                       Indonesia,  dengan  syarat  telah  memenuhi  semua  kewajiban  pajak  sampai  dengan

                       masa  pajak  terakhir,  sebelum  masa  pajak  diberlakukannya  penilaian  kembali  dan
                       mengajukan permohonan ke Dirjen Pajak.

                   2)  Aktiva tetap yang dinilai kembali adalah: (a). Seluruh aktiva tetapberwujud, termasuk
                       tanah yang berstatus hak milik atau hak guna bangunan, atau, (b). Seluruh aktiva tetap

                       berwujud tidak termasuk tanah, yang terletak atau berada di Indonesia, dimiliki dan

                       dipergunakan  untuk  mendapatkan,  menagih,  dan  memelihara  penghasilan  yang
                       merupakan Objek Pajak.

                   3)  Penilaian kembali dilakukan oleh perusahaan penilai yang diakui pemerintah. Apabila
                       nilainya tidak mencerminkan nilai sebenarnya maka Dirjen Pajak akan menetapkan

                       kembali nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang bersangkutan. Dan Penilaian kembali





                                                                                                       3
   1   2   3   4   5   6   7   8   9   10