Page 82 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 82

pengakuan kedaulatan. Pada era ini, pemerintah mengalami deisit sebesar Rp 5,1
              miliar. Deisit ini sebagian besar berhasil dikurangi dengan pinjaman pemerintah
              dan kebijakan ekspor impor barang, terutama ketika pecah Perang Korea.
                  Namun sejak tahun 1951, penerimaan pemerintah mulai          berkurang
              disebabkan menurunnya      volume   perdagangan internasional. Indonesia
              sebagai  negara  yang berkembang tidak memiliki     komoditas  ekspor lain
              kecuali dari hasil perkebunan.  Kondisi ini  membawa dampak  perkembangan
              perekonomian Indonesia    yang tidak mengarah pada     stabilitas  ekonomi,
              bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.  Di sisi lain pengeluaran pemerintah
              semakin meningkat akibat tidak stabilnya situasi politik sehingga angka deisit
              semakin meningkat. Di samping itu, pemerintah belum berhasil meningkatkan
              produksi  dengan memanfaatkan sumber-sumber yang masih ada           untuk
              meningkatkan pendapatan nasional. Kelemahan pemerintah lainnya      adalah
              politik keuangannya   tidak  dirancang oleh pemerintah Indonesia   sendiri,
              namun dirancang oleh pemeritah Belanda. Hal    ini  terjadi  akibat  dari  politik
              kolonial Belanda yang tidak mewariskan ahli-ahli yang cukup sehingga usaha
              mengubah sistem ekonomi dari ekonomi kolonial ke ekonomi nasional tidak
              mampu menghasilkan perubahan yang drastis.

                  Kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk menanggulangi permasalahan
              tersebut  di  antaranya  adalah melaksanakan industrialisasi, yang dikenal
              dengan Rencana    Soemitro. Sasaran yang ditekankan dari      program   ini
              adalah pembangunan industri dasar, seperti  pendirian pabrik-pabrik semen,
              pemintalan, karung dan percetakan. Kebijakan ini diikuti dengan peningkatan
              produksi,  pangan, perbaikan sarana  dan prasarana,  dan penanaman modal
              asing.
                  Pada  masa   pemerintahan  Kabinet   Burhanuddin Harahap, Indonesia
              mengirim delegasi ke Belanda dengan misi merundingkan masalah Finansial
              Ekonomi   (Finek). Perundingan ini  dilakukan pada  tangal  7 Januari  1956.
              Rancangan persetujuan Finek yang diajukan Indonesia   terhadap pemerintah
              Belanda adalah sebagai  berikut:

              a.   Pembatalan Persetujuan Finek hasil KMB

              b.   Hubungan Finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral
              c.  Hubungan Finek didasarkan atas   undang-undang Nasional, tidak boleh
                  diikat oleh perjanjian lain.
                  Namun, usul   Indonesia  ini  tidak diterima  oleh pemerintah Belanda,
              sehingga  pemerintah Indonesia   secara  sepihak melaksanakan rancangan
              Fineknya  dengan   membubarkan Uni     Indonesia-Belanda  pada  tanggal  13
              Febuari  1956 dengan tujuan melepaskan diri   dari  ikatan ekonomi  dengan
              Belanda.

              74    Kelas XII SMA/MA
   77   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87