Page 98 - E-BOOK EKOSISTEM LEAF_Neat
P. 98
Suksesi Ekologi
Suksesi Sekunder
Pada tahap awal, terjadi gangguan seperti kebakaran hutan, banjir, atau
penebangan yang merusak sebagian vegetasi. Meskipun demikian, tanah dan
sisa kehidupan masih tetap ada di lingkungan tersebut. Selanjutnya, tumbuhan
awal seperti rumput dan herba mulai tumbuh kembali dengan memanfaatkan
unsur hara yang sudah tersedia di dalam tanah.
Seiring waktu, semak-semak dan pohon pionir mulai berkembang dan
menggantikan tumbuhan yang lebih kecil. Vegetasi menjadi semakin rapat
hingga akhirnya terbentuk hutan yang lebih stabil. Pada tahap akhir, ekosistem
mencapai kondisi klimaks, yaitu keadaan yang relatif seimbang dengan
perubahan yang sangat kecil sehingga ekosistem kembali mendekati kondisi
semula (Widodo et al., 2021).
Dalam perspektif Education for Sustainable Development (ESD), suksesi sekunder
menunjukkan bahwa aktivitas manusia memiliki peran besar dalam mempercepat
maupun menghambat proses pemulihan ekosistem. Kebakaran hutan yang
disebabkan oleh manusia, misalnya, dapat merusak ekosistem secara luas dan
berdampak pada kehidupan sosial serta ekonomi masyarakat, seperti
terganggunya kesehatan akibat asap dan hilangnya sumber mata pencaharian.
Dari aspek lingkungan, suksesi sekunder mencerminkan kemampuan ekosistem
untuk pulih setelah gangguan, namun proses tersebut dapat terganggu jika
kerusakan terjadi secara berulang. Dari aspek sosial dan ekonomi, pemulihan
ekosistem yang lambat dapat memengaruhi kesejahteraan masyarakat yang
bergantung pada sumber daya alam. Oleh karena itu, diperlukan upaya
pengelolaan lingkungan yang bijak, seperti pencegahan kebakaran hutan dan
rehabilitasi lahan, agar proses suksesi dapat berlangsung secara optimal dan
keberlanjutan ekosistem tetap terjaga (IPBES, 2019; FAO, 2020).
87

