Page 132 - Drs. Adrianus Howay, MM - Meretas Batas Pendidikan di Tanah Papua
P. 132

“Bagaimana  kamu  tahu  Waena  akan  menjadi  sebuah
            desa ? Ditinjau dari jumlah masyarakatnya saja tidak memenuhi
            standar sebuah desa,“ kata Hubertus Sangur.


                    “Coba Bapak lihat! Sekarang, di Waena sana sudah mulai
            dibangun perumahan.  Tentu saja ke depan semakin banyak
            pegawai  pemerintahan  yang  tinggal  di  sana.  Tidak  mungkin
            kan, di perumahan heterogen  dipimpin  kepala  desa. Pasti ke

            depan  akan  berkembang  menjadi  kelurahan,“  papar  Adrian
            mempertahankan argumennya.

                    Sekeras apapun  Adrian mempertahankan  judul

            skripsinya, tetap saja judul kedua yang diajukan kandas. Judul
            kedua di tolak mentah-mentah oleh Hubertus Sangur. Kesabaran
            Adrian habis, menghadapi dosen pembimbing dua yang seolah
            menghalangi  skripsinya. Ia mengambil  langkah  mendatangi

            dosen pembimbing satu untuk berkonsultasi.

                    Di hadapan Lazarus Reflasi, Adrian membeberkan dua
            judul  skripsi yang  ditolak dosen pembimbing  dua. Melihat

            judul skripsi yang diajukan Adrian, Lazarus menyarankan untuk
            menggunakan judul skripsi yang diajukan pertama.

                    “Bapak, sebentar lagi sudah ujian tetapi dua judul skripsi

            yang saya ajukan semua ditolak dosen pembimbing dua, “ lapor
            Adrian dengan wajah kesal.

                    “Kenapa  bisa  begitu?  Judul  skripsimu  yang  pertama

            dulu sudah bagus. Coba menggunakan judul yang pertama saja,

      120
   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136   137