Page 73 - Semangat Berbagi Semangat Menginspirasi (1)
P. 73
Semangat Berbagi! Semangat Menginspirasi!
Belajar Mandiri Tetap Menyenangkan
Oleh: Nonny Irayanti - Ummun wal Madrasatul Ula, Bandung, Jawa Barat
Pandemi telah mengubah tatanan global hingga ke dunia pendidikan. Baik guru, siswa, maupun orang tua, semuanya memainkan peran baru, yaitu beradaptasi dengan cara belajar baru: belajar dari rumah (BDR). Guru berupaya tetap memberikan layanan pendidikan terbaik bagi anak didiknya. siswa-siswi belajar dengan suasana rumah yang lebih banyak godaan untuk main daripada belajar. Orang tua menjadi perantara antara guru dan peserta didik. Ketika berkomunikasi dengan guru, orang tua menjadi wakil anaknya sebagai peserta didik. Sementara pada saat di rumah, orang tua menjadi delegasi guru dalam mendampingi putra-putrinya menimba ilmu.
Namun peranan-peranan ini tak mudah untuk dimainkan. Butuh kesungguhan dan tekad yang kuat untuk menciptakan pembelajaran yang ideal. Pada kenyataannya seringkali ditemui beberapa kendala. Seperti penyampaian materi yang tidak optimal dengan berbagai keterbatasan sarana misalnya. Hal ini dapat berimbas kepada mood anak dalam belajar. Dukungan orang tua sebagai wali guru di rumah menjadi sangat membantu.
Masa pandemi sebenarnya mengembalikan fungsi pendidikan kembali kepada orang tua. Sekalipun sekolah memberikan serangkaian tugas untuk dikerjakan, namun peran orang tua cukup signifikan dalam mengawal terjadinya proses belajar mengajar ini. Sejauh mana orang tua ingin anaknya mengerti dan memahami suatu ilmu; sejauh mana hafalannya; sejauh mana anak dapat mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupannya sehari-hari; sejauh mana akhlak dan nilai moral yang ingin ditanamkan pada anak; apakah ketika menyetorkan tugas anak kepada guru hanya sebatas menggugurkan kewajiban, atau dengan kata lain hanya untuk mendapatkan nilai; ataukah orang tua mampu memastikan tugas yang dikerjakan anak memang ajang evaluasi untuk menilai pemahaman anak. Semuanya dikembalikan kepada target yang distandarkan orang tua kepada anaknya. Seringkali kita (baca: saya) luput terhadap hal-hal ini.
Pada akhirnya kami sebagai orang tua mengharapkan apa yang dipelajari anak mampu menjadi ilmu yang bermanfaat bagi dirinya. Karena itu kami memberikan anak beberapa opsi untuk belajar sesuai dengan apa yang menjadi minatnya. Ternyata sang anak lebih menyukai dan mendalami bidang kebahasaan. Kami pernah menggabungkannya dalam les bahasa arab secara online melalui Zoom pada saat sedang liburan sekolah. Walaupun hanya dua modul, karena liburan sekolah sudah selesai, tapi pelajarannya cukup berkesan. Di sana sang anak mulai mengenal Quizizz. Dibutuhkan kecermatan tinggi dalam menjawab tugas bahasa arab, karena salah mengetik spasi pun, jawaban dianggap keliru. Sang anak cukup bersemangat walaupun belajar sesudah sholat subuh. Disamping itu sang anak pun diberikan waktu untuk bermain Duolingo. Sambil belajar, sambil bermain bahasa-bahasa. Untuk melepas penatnya belajar, sang anak yang senang menulis kami berikan akses menggunakan komputer. Ia mulai belajar mengetik, mengoperasikan PowerPoint hingga membuat cerita dalam PowerPoint.
Pandemi ini menyadarkan saya, bahwa tugas seorang guru tidaklah mudah. Seorang guru tidak sekedar mengajari peserta didik tentang mata pelajaran yang diampunya. Lebih jauh ia adalah pendidik generasi, arsitek peradaban. Melalui tangannya lah dicetak generasi harapan bangsa yang kelak memimpin negara ini menjadi negara yang maju dan bermartabat. Salute untuk para guru. Semoga segala pengetahuan yang diberikan, menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan kita semua di dunia dan akhirat. Selamat hari guru!
65

