Page 24 - 91221055_BAB I_DAFTAR PUSTAKA..1
P. 24
12
Proses peradilan yang merupakan proses bekerjanya organisasi-
organisasi terutama Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga
Pemasyarakatan, menggunakan konsep penyelenggaraan dan pengelolaan
peradilan menurut sistem yang dikenal dengan system approach, yaitu
penanganan secara sistemik terhadap administrasi peradilan. Pembagian tugas
dan wewenang diantara masing-masing organisasi merupakan prinsip
diferensial fungsional. Hal ini dimaksudkan untuk secara tegas menghindari
adanya tumpang tindih dikarenakan telah adanya pembagian tugas dan
14
wewenang yang jelas. Artinya, berdasarkan prinsip diferensial fungsional ini
ditegaskan pembagian tugas dan wewenang antara aparat penegak hukum
secara institusional, dimana KUHAP meletakkan suatu azas “penjernihan” dan
modifikasi fungsi dan wewenang antara aparat penegak hukum secara
instansional.
Penjernihan diferensiasi fungsi dan wewenang, diarahkan antara
Kepolisian dan Kejaksaan yang diatur dalam Pasal 1 butir 1 dan 4 jo Pasal 1
butir 6 huruf a jo Pasal 13 KUHAP. Dalam ketentuan ini ditegaskan bahwa :
- Penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pegawai
Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang
untuk melakukan penyidikan (Pasal 1 butir 1 KUHAP).
- Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk
bertindak sebagai Penuntut Umum serta melaksanakan putusan Pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 1 butir 6 huruf a
KUHAP).
14 Satjipto Rahardjo, Op.Cit, hlm. 19