Page 146 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 31 OKTOBER 2019
P. 146

Kenaikan tersebut dinilai belum cukup oleh Serikat Buruh Sejahtera Indonesia
               (SBSI) 1992 Solo.

               "Yang jelas kita masih menolak dengan angka segitu, belum cukup lah," kata Ketua
               DPC SBSI 1992 Kota Surakarta Endang Setiowati S.H, saat dihubungi Tribunnews
               melalui sambungan telepon, Rabu (30/10/2019).

               Kenaikan yang berdasar pada PP No. 78 Tahun 2015 tersebut dinilai masih jauh dari
               harapan.

               "Angka yang hanya tambahannya sedikit itu kan dikarenakan patokannya PP No. 78,
               di PP No. 78 sebenarnya isinya masih jauh dari harapan kita," kata Endang.

               Dikatakan Endang, komponen dalam hitungan PP No.78 jauh dari realita yang
               dialami para buruh.

               Saat ditanya mengenai harapan besaran kenaikan, Endang tak bisa serta merta
               memastikan hal tersebut.

               Menurutnya, hal ini harus dimulai dari perubahan dalam sistem.

               "PP No. 78 itu kan ada di dalamnya komponen yang harus dijadikan upah
               komponen kebutuhannya hanya 60 item, realitanya lebih dari itu," jelasnya.

               Pihaknya berharap ada perubahan sistem yang nyata.

               "PP No.78 berlaku lima tahun, padahal ini baru berjalan dua tahun," katanya.

               Endang juga mempersoalkan keputusan kenaikan UMP dengan mengandalkan
               inflasi. Penghitungan UMP dengan faktor inflasi ini justru dinilai akan merugikan
               para buruh.

               "Padahal kenaikan inflasi sudah harus dibayar buruh sebelum upah diberikan,"
               "Inflasi biasanya terjadi sebelum lebaran. Secara otomatis upah yang baru diberikan
               beberapa bulan sudah harus nombok lagi," katanya.

               SBSI tetap berupaya untuk memperjuangkan hak buruh dengan mengadakan
               berbagai audiensi terkait polemik PP No. 78.

               Hingga saat ini, PP No. 78 dinilai masih mencekik para buruh. Endang berharap,
               pemerintah memberikan kebijakan lain untuk menutup kebutuhan para buruh.

               (Tribunnews.com/Miftah).








                                                      Page 145 of 173.
   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151