Page 49 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 JANUARI 2020
P. 49

Isna juga menjelaskan bahwa ibundanya sering mengirimkan uang kepada
               keluarganya yang ada di  Purwakarta  dengan nominal yang berbeda-beda.


                "Ya kirim uang kalau kami sedang butuh saja ada Rp 2 juta, Rp 3 juta, atau Rp 5
               juta. Uang itu biasanya digunakan untuk uang kuliah saya. Jadi sebutuhnya berapa
               baru mengirim," ujar Isna yang juga mahasiswi jurusan IT semester 3, kampus LP3I
               dan seraya menyebut bapaknya saat ini bekerja di Jakarta sebagai pegawai sablon
               di perusahaan konveksi.

                Takut Mengadu ke KBRI


               Tindak kekerasan atau penganiayaan terhadap tenaga kerja wanita (  TKW  ) dari
               Indonesia kembali terjadi di luar negeri.

                Kali ini, kasusnya menimpa  TKW  asal Pasawahan,  Purwakarta  , bernama  Neng
               Oyah  Aipah (43).

                Menurut saudara Neng Oya Aipah, Peti Fatimah, Neng Oyah merupakan orang yang
               sangat rajin dalam bekerja dan jujur.

                 Sebelum bekerja di majikannya yang jahat ini,  Neng Oyah  , kata Peti, bekerja di
               salon teman majikannya.

                "Tapi,  Neng Oyah  difitnah oleh temannya sendiri mungkin cemburu atau apa itu
               temannya. Lalu, sama majikannya yang dulu itu  Neng Oyah  dipindahkan ke
               majikannya yang baru tanpa sepengetahuannya," ujar Peti yang juga mantan TKI,
               melalui pesan, Selasa (14/1/2020).

                Peti juga menyebut kekerasan yang sama pun dirasakan oleh sopir majikannya
               yang juga satu tempat kerja dengan  Neng Oyah  .

                "Sopir majikannya juga dapat tindak kekerasan. Bahkan, si sopir itu bilang kalau
               majikannya akhlaqnya 'setan'," ujarnya.

                 Selama dua tahun ini,  Neng Oyah  menurut Peti mendapatkan tindak kekerasan
               penganiayaan sampai yang terakhir ialah difitnah mencuri emas.

                "Neng Oyah sempat ditangkap polisi di sana (Arab Saudi) khusus laki-laki yang di
               dalamnya semua laki-laki. Tahanan itu orang-orang stres semua dan disuruh untuk
               memperkosa  Neng Oyah  biar mengaku. Tapi, tetap saja  Neng Oyah  tak mau
               mengaku karena tak merasa mencuri," ujarnya.

                Neng Oyah sengaja tak berani melaporkan kasusnya ke Konsulat Jenderal Republik
               Indonesia (KJRI) karena takut dengan majikannya.

                "Sebab kalau ketahuan  Neng Oyah  lapor ke konsulat, maka nasibnya pasti akan
               sama seperti orang Nepal dan Filipina yang dikurung di kamar tanpa diberi makan
               sampai meninggal orang Filipina itu karena dikurung di kamar mandi selama tiga
               bulan," ucap dia. (*).



                                                       Page 48 of 110.
   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54