Page 75 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 MARET 2020
P. 75
"Terdakwa bertanya kepada korban kenapa dia tidak membersihkannya dengan
benar. Lalu terdakwa menjadi marah dan berteriak padanya, 'Saya ingin gigimu
copot satu'," terang Imaduddien. Korban lalu dipaksa memukul kembali mulutnya,
baik dengan tangan maupun penumbuk daging, tapi giginya tidak pernah copot.
Namun, setelah 50 kali dipukul, korban merasa lemas dan sedikitnya tiga giginya
menjadi longgar. Meski demikian, Mun tidak berhenti dan mengambil penumbuk
daging untuk memukulnya. Ketika giginya copot, Mun memaksa korban
mengambilnya dan membuangnya jauh. Korban lalu ditinggalkan tanpa dirawat.
Penyiksaan terus berlanjut. Ketika pulang malam hari, Mun menemukan masih ada
debu di rumahnya dan kembali memukul korban sebanyak 10 kali sampai berdarah
pada 7 Februari 2019. Sepekan kemudian, korban menelepon Centre for Domestic
Employees untuk meminta bantuan dan melaporkan kejadian itu.Murugaiyan
mengatakan, kliennya menderita gangguan kejiwaan lebih dari satu dekade silam.
Pelaku sering mendengar "bisikan" untuk memukul dan menyiksa korban. Institute
of Mental Heatlh juga menyatakan, Mun menderita depresi berat dan OCD sehingga
mudah kehilangan kendali diri saat tersinggung.
Singapore General Hospital tempat Mun diperiksa pada Februari 2019
mengungkapkan hal serupa. Mun mengalami depresi setidaknya dalam dua tahun
terakhir dan kehilangan tujuan hidup. Namun, dia masih bertahan karena sayang
kepada anaknya. Mun juga dikenal sebagai orang yang peduli terhadap kebersihan
dan kerapian.
"Dia menghabiskan waktu lima jam sehari untuk membereskan rumah. Dia sangat
terobsesi dengan kebersihan dan merasa kurang puas dengan hasil kerja
pembantunya," terang Murugaiyan. Bagaimanapun, tindak kekerasan Mun tidak
dapat dibenarkan. Putusan hukum akan dikeluarkan pada Mei nanti.
Page 74 of 134.

