Page 87 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 MARET 2020
P. 87
RUU Cipta Kerja juga diharapkan dapat menjadi jalan keluar untuk mengatasi
tingkat pengangguran, angkatan kerja baru dan jumlah penduduk yang tidak
bekerja. Saat ini, jumlah UMKM cukup besar, tetapi produktivitasnya masih rendah.
Dirinya berharap, agar Indonesia bisa menjadi negara maju dengan ekonomi
berkelanjutan dan masuk ke peringkat 5 besar ekonomi dunia, sehingga nantinya
mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (Middle Income Trap)
dengan tingkat kemiskinan mendekati 0%, masuk ke peringkat 4 PDB Dunia dengan
capaian 7 triliun US Dolar, serta memiliki tenaga kerja yang berkualitas.
RUU Cipta Kerja juga menjadi pelecut agar produk para pengusaha bisa memiliki
daya saing untuk dijual sebagai pengganti impor, atau bahkan masuk pasar ekspor.
Kita tentu tahu bahwa regulasi di Indonesia memiliki berbagai atap dan pintu,
sekalipun untuk mendapatkan pelayanan di satu atap, tapi ternyata masih ada
beberapa pintu yang harus dilewati.
Untuk itu, segala hal yang menghambat proses investasi haruslah dipangkas habis,
sehingga tidak ada lagi istilah obesitas regulasi demi penguatan ekonomi secara
nasional.
Perampingan regulasi diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang
ramah terhadap investasi, dengan hadirnya investasi maka ekonomi negara akan
menguat dan angka pengangguran akan berkurang.
Beberapa pihak juga mengkritisi terkait dengan sistem pengupahan yang diatur di
dalam RUU Cipta Kerja, seperti isu pengubahan sistem pengupahan menjadi setiap
jam, hal ini tentu menjadi pertanyaan sekaligus momok bagi beberapa pihak.
Namun mari kita kaji terlebih dahulu, dimana upah per bulan sudah ada regulasinya,
tapi bagi mereka yang bekerja jam-jaman belum ada hitungannya, dan yang
berkembang adalah isu terkait pengubahan sistem pengupahan dari per bulan
menjadi per jam. Padahal bukan itu maksudnya, dimana RUU Cipta Kerja sendiri
menawarkan kedinamisan di dunia kerja.
Kemajuan teknologi berdampak pada cara orang bekerja, mekanisme bekerja, tata
kerja, alat kerja dan lain-lain. Hal ini semua berdampak kepada waktu dalam
bekerja.
Pesatnya teknologi memungkinkan seseorang menyelesaikan pekerjaannya dalam 2
jam. Kalau tidak mengatur seperti ini tentu tidak ada regulasi yang mengatur sistem
pengupahan tersebut.
Tentu saja kita berharap agar dalam proses pengesahan ini tidak menimbulkan
banyak kegaduhan. Karena tentu saja konsep ini bukanlah konsep yang hanya lahir
dalam hitungan detik.
Page 86 of 134.

