Page 43 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 OKTOBER 2019
P. 43

Kemnaker telah mendampingi Delegasi Pemerintah Daerah NTT dalam melakukan
               kunjungan kerja ke perusahaan kelapa sawit FGV di Malaysia. Dari hasil kunjungan
               tersebut, disimpulkan bahwa FGV merupakan salah satu perusahaan kelapa sawit
               terbesar di Malaysia yang menerapkan standar dan norma-norma ketenagakerjaan
               internasional sesuai konvensi ILO.

               "Sehingga, kepastian pelindungan terhadap PMI yang bekerja di perusahaan
               tersebut dapat dijamin dalam implementasinya," terang Aris.

               Ia menambahkan, sebelum ditempatkan di Malaysia, Calon PMI akan mendapatkan
               pelatihan di BLK Kupang dan BLK Maumere. Selanjutnya, para Calon PMI akan
               mendapat sertifikasi yang diselenggarakan BNSP. Pelatihan dan sertifikasi tersebut
               diselenggarakan secara gratis.

               Selanjutnya, para Calon PMI akan mengikuti pelatihan lanjutan di Malaysia selama 6
               bulan. Aris memastikan, selama mengikuti pelatihan lanjutan, para Calon PMI akan
               mendapatkan gaji penuh.

               "Jadi nanti di enam bulan itu, walaupun statusnya training, mereka sudah mendapat
               gaji penuh sesuai Upah Minimum setempat," terangnya.

               Ia berharap, pilot project ini dapat menjadi gambaran penempatan tenaga kerja
               yang sesuai dengan aturan yang baru. "Besar harapan kami semoga
               pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan lancar," ujarnya.

               Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN)
               Kemnaker, Eva Trisiana, menambahkan, saat ini PMI yang bekerja di sektor
               perkebunan di Malaysia berjumlah 15.587 orang. Mayoritas PMI sektor perkebunan
               tersebut bekerja di perkebunan kelapa sawit.

               "Pilot project ini tentu akan mempermudah sekaligus meningkatkan perlindungan
               dalam proses masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri," kata Eva.

               Selain pilot project tersebut, selama ini pemerintah telah menerapkan sejumlah
               program untuk menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan di NTT, khususnya terkait
               perlindungan bagi pekerja migran. Diantaranya, pembangunan 3 LTSA yang terletak
               di Kupang, Sumba Barat Daya, dan Maumere.

               Kemnaker juga terus mengembangkan program Desa Migran Produktif
               (Desmigratif). Desmigratif mencakup layanan informasi pasar kerja luar negeri,
               informasi prosedur bekerja dan perwakilan Pemerintah Indonesia di luar negeri,
               pengembangan potensi desa, pemasaran produk desa, hingga pengasuhan anak
               PMI yang ditinggal bekerja di luar negeri.

               "Hingga saat ini, lebih dari 60 Desmigratif tersebar di desa-desa di NTT.
               Harapannya, program-program ini memberikan perlindungan yang komprehensif
               bagi pekerja migran kita," papar Eva.



                                                       Page 42 of 116.
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48